WASHINGTON — Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan ekonomi global berisiko menghadapi tekanan inflasi yang lebih tinggi bersamaan dengan perlambatan pertumbuhan, seiring dampak perang Iran yang mengguncang perekonomian dunia. Kondisi ini dinilai sulit dihindari dan berpotensi mengubah proyeksi ekonomi global yang sebelumnya lebih optimistis.
Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan konflik tersebut telah menggeser arah ekonomi dunia secara signifikan. “Semua jalan sekarang mengarah ke harga yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih lambat,” kata Georgieva dalam wawancara, Senin (6/4/2026) malam waktu setempat.
Sebelum konflik pecah, IMF memperkirakan akan sedikit menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,3 persen pada 2026 dan 3,2 persen pada 2027. Namun, ekspektasi itu berubah setelah perang Iran memicu guncangan besar terhadap perekonomian dunia.
Menurut Georgieva, dampak konflik tidak hanya bersifat jangka pendek dan diperkirakan akan terus terasa bahkan jika perang berakhir dalam waktu dekat. Salah satu pemicu utama adalah terganggunya pasokan energi global.
Serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran enam pekan lalu memicu penutupan efektif Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi distribusi energi dunia. Penutupan itu sempat menghentikan aktivitas pelayaran di kawasan Teluk. Meski lalu lintas kapal mulai kembali, volumenya disebut masih jauh di bawah kondisi normal.
Data S&P Global Market Intelligence menunjukkan delapan kapal tanker melintas pada Senin, meningkat dibandingkan rata-rata kurang dari dua kapal per hari pada Maret 2026. Namun, angka tersebut masih jauh dari rata-rata sebelum perang, yakni sekitar 20 juta barel minyak mentah dan produk energi yang melintas setiap hari sepanjang 2025.
IMF mencatat pasokan minyak global telah berkurang 13 persen akibat konflik di Timur Tengah tersebut. Selain itu, kerusakan juga dilaporkan terjadi pada berbagai rantai pasok penting lainnya.
Georgieva menekankan negara-negara miskin dengan cadangan terbatas berpotensi menjadi pihak yang paling terdampak. “Kita berada di dunia dengan ketidakpastian yang meningkat,” ujarnya, seraya menyebut faktor pendorong ketidakpastian mencakup ketegangan geopolitik, perkembangan teknologi, perubahan iklim, dan dinamika demografi.

