BERITA TERKINI
Invesnesia: Diversifikasi Lintas Aset Dinilai Relevan di Tengah Ketidakpastian Global

Invesnesia: Diversifikasi Lintas Aset Dinilai Relevan di Tengah Ketidakpastian Global

Platform riset dan edukasi investasi Invesnesia menilai diversifikasi lintas aset dapat menjadi salah satu opsi bagi investor untuk menghadapi meningkatnya ketidakpastian global dalam beberapa waktu terakhir.

Head of Research Invesnesia, Alfatur, menyebut ketegangan geopolitik, volatilitas harga komoditas, serta perubahan kebijakan moneter global memberi tekanan terhadap pasar keuangan, termasuk pasar saham. Menurutnya, kondisi global yang penuh volatilitas membuat investor tidak cukup hanya mengandalkan satu jenis aset.

Ia menjelaskan tekanan tersebut antara lain tercermin dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat serta fluktuasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa periode terakhir. Situasi ini, kata dia, menunjukkan perlunya perspektif yang lebih luas, tidak hanya melihat pergerakan pasar domestik, tetapi juga hubungan antara pasar saham lokal dan dinamika ekonomi global.

Dalam konteks itu, pendekatan investasi multi-aset dinilai relevan karena tidak hanya berfokus pada saham domestik, tetapi juga membuka peluang pada aset global seperti saham internasional, komoditas, dan instrumen keuangan alternatif. Diversifikasi multi-aset disebut dapat mengurangi risiko konsentrasi sekaligus membuka peluang pertumbuhan dari berbagai sektor ekonomi yang berbeda.

Berdasarkan analisis tim riset Invesnesia, diversifikasi tidak hanya berfungsi sebagai strategi perlindungan risiko, tetapi juga dapat menjadi cara untuk menangkap peluang pertumbuhan dari berbagai sektor ekonomi global.

Alfatur menambahkan, pasar saham Indonesia dinilai didukung fundamental ekonomi yang relatif stabil, dengan pertumbuhan ekonomi sekitar 5 persen per tahun. Namun, ia menilai dalam sistem keuangan yang semakin terintegrasi, pergerakan pasar domestik tetap dipengaruhi faktor eksternal, termasuk perubahan suku bunga global yang dapat memicu arus keluar modal dari negara berkembang.

Ia menilai investor yang memiliki eksposur pada berbagai kelas aset umumnya memiliki fleksibilitas lebih baik dalam mengelola risiko portofolio. Selain itu, komoditas seperti emas dan energi kerap menjadi pilihan saat ketidakpastian ekonomi global meningkat karena dalam beberapa periode krisis pergerakannya cenderung berbeda dengan pasar saham.

Alfatur menekankan pentingnya pemahaman hubungan antar aset agar investor tidak terjebak pada risiko konsentrasi di satu pasar atau satu instrumen. Melalui pendekatan berbasis riset dan literasi keuangan, investor diharapkan dapat mengambil keputusan yang lebih rasional dan berorientasi jangka panjang di tengah integrasi pasar global yang semakin kuat.

Ia juga menilai akses investor Indonesia yang semakin terbuka terhadap berbagai instrumen keuangan global dapat menjadi peluang untuk membangun portofolio yang lebih seimbang.