BERITA TERKINI
Iran Tembaki Kapal di Selat Hormuz, Ketegangan Memanas dan Diplomasi AS–Iran Terancam

Iran Tembaki Kapal di Selat Hormuz, Ketegangan Memanas dan Diplomasi AS–Iran Terancam

Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran menembaki kapal kontainer di Selat Hormuz pada Rabu (22/4/2026) waktu setempat. Insiden tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan pada salah satu kapal dan memicu kekhawatiran baru terhadap keamanan jalur energi global.

Peristiwa ini juga dinilai memperumit upaya diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat yang tengah dirancang berlangsung di Pakistan. Situasi tersebut terjadi meski gencatan senjata disebut telah diperpanjang, menandakan kondisi di lapangan masih jauh dari stabil.

Serangan itu disebut dilakukan oleh Garda Revolusi Iran. Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu untuk memberi ruang bagi Teheran mengajukan “proposal terpadu” sebelum negosiasi lanjutan. Namun, penembakan di salah satu jalur pelayaran paling vital dunia dipandang sebagai sinyal eskalasi.

Berdasarkan laporan otoritas pemantau maritim Inggris, kapal pertama ditembaki pada pagi hari oleh kapal perang Iran. Tidak lama kemudian, kapal kedua juga menjadi sasaran tembakan, meski dilaporkan tidak mengalami kerusakan.

Melalui media resminya, Iran mengklaim tindakan tersebut dilakukan setelah kapal mengabaikan peringatan. Di sisi lain, komunitas internasional menilai langkah itu berisiko tinggi terhadap stabilitas kawasan, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur krusial yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.

Dampak insiden segera terasa di pasar energi. Harga minyak mentah Brent dilaporkan melonjak mendekati 98 dolar AS per barel, naik lebih dari 30 persen sejak konflik dimulai.

Di tengah meningkatnya ketegangan, Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif disebut terus mendorong jalur diplomasi dengan harapan dapat mempertemukan kedua pihak di Islamabad. Namun hingga kini, Iran belum memberikan komitmen resmi untuk melanjutkan pembicaraan.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyatakan harapannya agar perpanjangan gencatan senjata dapat membuka ruang dialog. Meski demikian, perkembangan di lapangan dinilai belum menunjukkan tanda-tanda mereda.