Nama Dr. Eng. Rismon Sianipar belakangan ramai diperbincangkan di media sosial dan tayangan televisi setelah ia menyampaikan temuan yang memicu polemik terkait ijazah dan pendidikan mantan Presiden Joko Widodo serta putranya, Gibran Rakabuming Raka. Pernyataan tersebut memunculkan beragam respons publik, mulai dari pujian hingga hujatan, termasuk sorotan terhadap latar pendidikan yang dimilikinya.
Rismon Sianipar merupakan dosen di Teknik Elektro Universitas Mataram dan juga dikenal sebagai penulis aktif. Ia bernama lengkap Dr. Eng. Rismon Haji Sianipar ST MT MNG, lahir di Pematang Siantar pada 25 April 1977.
Riwayat pendidikannya dimulai setelah lulus dari SMAN 3 Pematang Siantar pada 1994. Ia kemudian merantau ke Yogyakarta dan menempuh pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada (UGM). Di kampus tersebut, Rismon menyelesaikan sarjana teknik (ST) pada 1998 dan melanjutkan magister teknik (MT) yang dituntaskan pada 2001.
Selama menempuh studi di Teknik Elektro UGM, ia disebut berada di bawah bimbingan Prof Dr Adi Soesanto dan Prof Dr Thomas Ridodo. Fokus penelitiannya ketika itu berkaitan dengan sinyal tak stasioner, dengan analisis energi menggunakan peta waktu-frekuensi. Bidang ini kemudian disebut menjadi salah satu fondasi yang relevan dengan kerja-kerja analisis bukti digital.
Pada 2003, Rismon memperoleh beasiswa Monbukagakusho dari pemerintah Jepang yang mengantarkannya melanjutkan studi di Universitas Yamaguchci, Jepang. Di sana, ia meraih gelar Master of Engineering (M.Eng.) pada 2005 dan melanjutkan hingga menuntaskan gelar doktor teknik (Dr. Eng.) pada 2008. Tesis master dan doktoralnya disebut dibimbing oleh Prof Dr Hidosimike.
Selain mengajar, Rismon juga dilaporkan aktif menjalin kerja sama riset dengan universitas dan lembaga penelitian di Jepang. Kerja sama itu berfokus pada bidang kriptografi dan kriptanalisis, termasuk kajian forensik audio, citra, serta video digital.
Bidang minat kajiannya disebut mencakup keamanan multimedia, pemrosesan sinyal citra dan video digital, kriptografi, komunikasi digital, forensik digital, hingga kompresi dan pengkodean data. Latar pendidikan dan fokus riset tersebut kemudian kerap dikaitkan dengan posisi dan pandangannya dalam isu yang tengah menjadi perbincangan publik.

