WASHINGTON — Ketertarikan Amerika Serikat terhadap Greenland bukanlah isu baru. Pulau terbesar di dunia yang berada di kawasan Arktik itu sejak lama masuk dalam perhitungan strategis Washington, mulai dari aspek geopolitik hingga kepentingan militer.
Dalam lintasan sejarah, Greenland kerap dipandang sebagai titik penting di belahan utara dunia. Dari masa ekspansi wilayah pada abad ke-19 hingga situasi Perang Dunia II, posisi geografis pulau tersebut berulang kali muncul dalam kalkulasi Amerika Serikat.
Awal ketertarikan pada 1867
Ketertarikan Amerika Serikat terhadap Greenland pertama kali mengemuka pada 1867, tahun yang sama ketika AS membeli Alaska dari Rusia. Saat itu, Amerika berada dalam fase ekspansi teritorial dan konsolidasi kekuatan pasca Perang Saudara.
Menteri Luar Negeri AS kala itu, William H. Seward, dikenal sebagai sosok penting di balik kebijakan perluasan wilayah. Selain Alaska, ia juga memandang kawasan Arktik sebagai aset strategis jangka panjang. Dalam kerangka geopolitik tersebut, Greenland dinilai memiliki posisi penting sebagai gerbang menuju Atlantik Utara dan kawasan Kutub Utara.
Meski wacana pembelian Greenland belum berkembang menjadi negosiasi resmi dengan Denmark, gagasan itu menandai lahirnya cara pandang Amerika terhadap pulau tersebut: bukan semata wilayah kolonial Eropa, melainkan potensi perpanjangan pengaruh Amerika di wilayah utara. Pada periode itu, nilai ekonomi Greenland belum sepenuhnya dipahami, namun letaknya sudah dianggap penting terkait jalur perdagangan, navigasi, dan kekuatan maritim.
Perang Dunia II dan pijakan militer AS
Momentum berikutnya terjadi pada Perang Dunia II. Ketika Denmark diduduki Jerman Nazi pada 1940, Greenland praktis terputus dari pemerintahan pusatnya. Kondisi itu memunculkan kekosongan kekuasaan yang berpotensi dimanfaatkan Jerman untuk kepentingan militer.
Amerika Serikat, meski pada awal perang belum sepenuhnya terlibat, menilai ada risiko besar jika Greenland jatuh ke tangan Nazi. Pulau tersebut dapat digunakan sebagai basis cuaca, pangkalan laut, atau titik loncatan militer di Atlantik Utara.
Pada 1941, Amerika Serikat dan otoritas lokal Greenland mencapai kesepakatan yang memungkinkan AS membangun pangkalan militer di pulau itu. Fasilitas tersebut digunakan untuk mengamankan jalur pelayaran Atlantik Utara, menyediakan data cuaca bagi operasi militer Sekutu, serta mencegah ekspansi militer Jerman di kawasan Arktik.
Rangkaian peristiwa ini memperlihatkan bagaimana Greenland, meski kerap dipandang sebagai wilayah terpencil yang tertutup es, berulang kali menempati posisi strategis dalam dinamika kekuatan global.

