Kementerian Perdagangan (Kemendag) RI mendorong reformasi sistem perdagangan internasional yang lebih inklusif dan berpihak pada pembangunan negara berkembang menjelang Konferensi Tingkat Menteri (KTM) ke-14 Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Pertemuan tersebut dijadwalkan berlangsung di Yaoundé, Kamerun, pada 26–29 Maret 2026.
Wakil Menteri Perdagangan RI, Dyah Roro Esti Widya Putri, menyatakan Indonesia akan mengambil peran sebagai negara kunci dalam memperjuangkan reformasi sistem perdagangan multilateral yang lebih berkeadilan pada KTM WTO ke-14.
“Hal ini sejalan dengan misi konstitusional untuk memajukan kesejahteraan umum melalui perdagangan yang adil,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (23/12/2025).
Roro menegaskan Indonesia akan mengawal sejumlah isu prioritas. Pertama, reformasi WTO, khususnya penguatan fungsi penyelesaian sengketa. Kedua, kepastian hukum atas kebijakan cadangan pangan publik (public stockholding) untuk mendukung ketahanan pangan nasional.
Selain itu, Indonesia juga memperjuangkan perlindungan nelayan kecil dalam pembahasan subsidi perikanan. Indonesia turut mendorong pengaturan niaga-el (e-commerce) yang tetap menjaga kedaulatan digital dan ruang fiskal nasional, serta fasilitasi investasi yang berorientasi pada pembangunan.
Dalam isu kekayaan intelektual, Indonesia menuntut agar moratorium penerapan Non-Violation and Situation Complaints (NVSC) pada The Agreement on Trade-Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPs) diperpanjang atau dihapuskan secara permanen.
Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag, Djatmiko Bris Witjaksono, menilai WTO sebagai satu-satunya organisasi perdagangan dunia memiliki peran penting dalam perdagangan internasional. Menurutnya, forum yang membahas masa depan WTO menjadi sarana untuk memproyeksikan dinamika perdagangan multilateral Indonesia di tengah ketidakpastian global.
“Forum ini menjadi bagian dari proses pemerintah dalam menerima masukan dan pandangan tentang bagaimana sebaiknya Indonesia berkiprah di WTO. Perjuangannya tidak mudah, tetapi kita harus optimistis di tengah situasi yang sangat kompleks,” kata Djatmiko.

