JAKARTA – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyoroti dampak konflik antara Iran dan Amerika Serikat (AS) terhadap aktivitas ekonomi di Timur Tengah, terutama di kawasan Teluk. Gangguan tersebut dinilai merembet ke sektor perdagangan dan logistik, yang pada akhirnya berpotensi mendorong kenaikan harga barang.
Ketua Komite Bilateral Saudi Kadin Indonesia, Mohamad Bawazeer, mengatakan situasi keamanan di kawasan Teluk menjadi faktor penting bagi kelancaran perdagangan. “Saya sarankan kalau daerah Teluk ini aman terhadap serangan-serangan, maka otomatis perdagangan lebih enak,” ujar Bawazeer dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (4/4).
Menurut Bawazeer, dampak konflik terlihat pada kenaikan ocean rate atau tarif dasar biaya pengiriman barang internasional melalui laut yang disebut meningkat sekitar tiga kali lipat. Ia juga menyebut sejumlah perusahaan pelayaran bersikap menunggu (wait and see) dan tidak berani mengeluarkan nomor pemesanan (booking) karena mempertimbangkan risiko perang.
Selain itu, beberapa kapal memilih menghindari rute Bab-el-Mandeb di Laut Merah dan memutar perjalanan melalui benua Afrika sebelum masuk ke Terusan Suez di Mesir. Perubahan rute ini membuat waktu pengiriman (delivery time) menjadi jauh lebih lama, bisa mencapai dua bulan. Dalam kondisi normal, pengiriman disebut hanya memerlukan sekitar 15–20 hari untuk tiba di Pelabuhan Dammam dan Jeddah.
Bawazeer juga menyampaikan adanya ribuan kontainer yang tertahan di Pelabuhan Jabal Ali karena tidak bisa keluar melalui Selat Hormuz. Ia menyebut hanya sebagian kapal yang dapat keluar atau masuk Selat Hormuz, itu pun dengan persetujuan otoritas setempat.
Kondisi tersebut, lanjutnya, mengganggu kegiatan bisnis di Arab Saudi, baik untuk pasokan produk jadi maupun bahan baku yang dibutuhkan perdagangan dan industri. Situasi ini dinilai berpotensi mendorong kenaikan harga barang.

