BERITA TERKINI
Kebijakan Trump ke China Dinilai Tak Konsisten, Daya Tekan AS Disebut Melemah

Kebijakan Trump ke China Dinilai Tak Konsisten, Daya Tekan AS Disebut Melemah

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjabat pada 2025 dengan janji menggunakan tarif untuk mengubah hubungan dagang dengan China. Ia menuding kebijakan perdagangan Beijing telah “menghancurkan” Amerika Serikat.

Namun, lebih dari setahun memasuki masa jabatan keduanya, langkah agresif tersebut dinilai belum mengubah perilaku dagang maupun strategi militer China. Sejumlah analis menilai kebijakan Washington terhadap Beijing justru terlihat tidak konsisten, bahkan membingungkan di kalangan pejabat AS sendiri.

Dalam beberapa bulan terakhir, pemerintahan Trump beberapa kali mengambil keputusan yang dinilai saling bertentangan. Salah satunya, Pentagon sempat memasukkan sejumlah perusahaan teknologi China ke daftar hitam militer karena diduga membantu militer China, tetapi kemudian mencabutnya hanya satu jam kemudian tanpa penjelasan memadai.

Contoh lain terjadi pada penjualan chip kecerdasan buatan. Trump menyetujui penjualan chip AI canggih H200 buatan Nvidia ke China pada Desember. Keputusan itu diumumkan sekitar 30 menit setelah Departemen Kehakiman AS menyebut chip tersebut diselundupkan ke China dan menjadi ancaman keamanan nasional.

Trump dijadwalkan mengunjungi China pada 14–15 Mei untuk bertemu Presiden Xi Jinping. Lawatan itu disebut akan menjadi kunjungan pertama presiden AS ke China dalam delapan tahun terakhir. Meski demikian, sejumlah analis menilai inkonsistensi kebijakan, ditambah gaya negosiasi yang improvisatif, justru melemahkan posisi AS dalam persaingan strategis dengan China.

Ely Ratner, mantan pejabat pertahanan AS untuk kawasan Indo-Pasifik, menilai berbagai lembaga pemerintah AS bergerak sendiri-sendiri dengan tujuan berbeda. “Pada hari tertentu, kebijakan bisa berubah arah ke mana saja,” katanya.

Tarif tinggi dan respons China

Trump memulai kebijakan China di periode keduanya dengan menaikkan tarif barang-barang China hingga sekitar 145%. Namun China tidak mundur dan membalas dengan menaikkan tarifnya sendiri. Ketegangan kemudian mereda setelah China mengancam membatasi pasokan logam tanah jarang, komoditas penting bagi industri AS.

China saat ini hampir memonopoli proses pemurnian dan pengolahan logam tanah jarang dunia. Ancaman pembatasan pasokan itu disebut membuat AS perlu menyesuaikan pendekatannya.

Situasi juga dipengaruhi oleh keputusan Mahkamah Agung AS pada Februari yang membatalkan banyak tarif Trump. Scott Kennedy dari Center for Strategic and International Studies menilai strategi awal Trump bertumpu pada tarif untuk memaksa China memberikan konsesi besar. “Strategi itu cepat kandas dan tidak ada rencana cadangan yang jelas,” ujarnya.

Meski demikian, tarif menghasilkan salah satu dampak yang diinginkan Trump, yakni penurunan defisit perdagangan barang AS dengan China sebesar 32% menjadi US$ 202 miliar pada 2025 dibandingkan 2024. Namun, tarif tersebut dinilai belum mengubah kebijakan dagang China dan belum mendorong relokasi industri ke AS. Sepanjang Februari hingga Desember tahun lalu, AS justru kehilangan sekitar 91.000 lapangan kerja manufaktur.

Pergeseran ke “managed trade”

Dalam perkembangan terbaru, Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer dinilai lebih dominan dalam kebijakan China dibanding Menteri Luar Negeri Marco Rubio yang dikenal lebih keras terhadap Beijing. Keduanya disebut menurunkan ekspektasi perubahan besar dan mengarah pada konsep “managed trade” atau perdagangan yang lebih terkelola.

Greer menyatakan AS ingin hubungan dengan China tetap stabil, perdagangan lebih seimbang, dan fokus pada barang-barang yang tidak sensitif secara strategis. Di sisi lain, China disebut berupaya memposisikan diri sebagai kekuatan global yang stabil dan bertanggung jawab di tengah kebijakan AS yang dinilai kacau.

Sinyal bertentangan dan kontrol ekspor

Inkonsistensi kebijakan juga terlihat pada langkah kontrol ekspor. Departemen Perdagangan AS sempat memperluas kontrol ekspor terhadap ribuan anak usaha perusahaan China untuk menutup celah akses terhadap teknologi sensitif. Namun kebijakan itu akhirnya ditunda setelah China mengancam membatasi ekspor logam tanah jarang.

Zack Cooper dari American Enterprise Institute menilai kontradiksi tersebut berangkat dari gaya kepemimpinan Trump yang cenderung mengambil keputusan spontan tanpa strategi besar yang jelas.

Tekanan dinilai terbatas

Meski begitu, beberapa langkah Trump tetap dinilai memberi tekanan pada Beijing. Operasi militer AS di Iran dan Venezuela melemahkan dua negara yang disebut sebagai mitra penting China sekaligus pemasok minyak utama. Trump juga menyetujui penjualan senjata senilai US$ 11 miliar kepada Taiwan pada Desember, serta menekan Panama agar mengurangi peran operator pelabuhan asal Hong Kong di sekitar Terusan Panama.

Namun para analis menilai langkah-langkah tersebut belum cukup memberikan pukulan strategis bagi China. Perang dengan Iran disebut menguras stok rudal canggih AS dan mengalihkan fokus militer Washington dari Asia. Jonathan Czin dari Brookings Institution menilai AS saat ini hanya mengambil “pion-pion kecil” di pinggiran, bukan menguasai pusat permainan strategis.

Di sisi lain, ketegangan Trump dengan sekutu-sekutu AS—baik terkait NATO, tarif, maupun konflik Iran—dinilai berpotensi melemahkan konsensus global untuk menghadapi China. Profesor Wang Dong dari Peking University mengatakan China melihat pendekatan AS saat ini sebagai bentuk kerusakan institusional, dan inkonsistensi kebijakan AS dinilai merusak kredibilitas Washington di mata dunia.