BERITA TERKINI
Kedubes China di Washington Tegaskan Kontrol Ketat Ekspor Militer di Tengah Sorotan Bantuan ke Iran

Kedubes China di Washington Tegaskan Kontrol Ketat Ekspor Militer di Tengah Sorotan Bantuan ke Iran

Kedutaan Besar China di Washington menekankan bahwa Beijing menangani “ekspor produk militer dengan hati-hati dan bertanggung jawab,” serta menerapkan kontrol ketat terhadap ekspor barang-barang berkegunaan ganda (dual-use). Pernyataan ini muncul di tengah sorotan mengenai kemungkinan dukungan China terhadap Iran di tengah perang dan meningkatnya ketegangan di kawasan.

Sebelumnya, pejabat Amerika Serikat menyebut Moskow telah membantu Iran sepanjang perang, namun peran China dinilai masih belum jelas. Beijing selama ini disebut cenderung menghindari memasok senjata ke wilayah konflik luar negeri atau melanggar sanksi AS secara terang-terangan karena risiko hukuman ekonomi yang besar. Situasi ini juga dipengaruhi ancaman Presiden AS Donald Trump yang menyatakan akan memberlakukan tarif 50% bagi negara mana pun yang memasok senjata ke Iran “tanpa pengecualian.”

Meski demikian, CNN pada awal bulan ini melaporkan bahwa intelijen AS mengindikasikan China sedang bersiap mengirimkan sistem pertahanan udara baru ke Iran dalam beberapa pekan ke depan, termasuk sistem rudal antipesawat yang diluncurkan dari bahu. Di sisi lain, Trump sempat mengatakan dalam wawancara dengan Fox Business bahwa Presiden China Xi Jinping telah meyakinkannya melalui pertukaran surat bahwa China tidak memasok senjata ke Iran. Pejabat China juga berulang kali membantah bahwa negara tersebut mengirimkan senjata ke Republik Islam itu.

Trump dan Xi dijadwalkan bertemu di Beijing pada pertengahan Mei, setelah pertemuan yang sebelumnya direncanakan pada April ditunda akibat perang Iran.

Jennifer Kavanagh, direktur analisis militer di Defense Priorities, menilai posisi Trump melemah karena keterlibatan dalam perang di Iran. Menurutnya, Trump tidak mampu menghadapi perang dagang baru yang mahal dengan China dan kemungkinan tidak ingin mengganggu rencana kunjungan ke Beijing. “Karena AS kemungkinan tidak akan merespons, risiko bagi China relatif rendah,” kata Kavanagh.

Di lapangan, AS juga meningkatkan tekanan terhadap Teheran melalui langkah-langkah di Selat Hormuz, jalur pelayaran vital bagi minyak dan gas. Setelah Iran menutup selat tersebut bagi kapal tanker minyak dan gas serta kapal lainnya dengan ancaman serangan sejak AS dan Israel meluncurkan perang pada 28 Februari, Trump pada 13 April mengatakan AS akan memblokade jalur air itu—yang sebelumnya masih sesekali digunakan kapal terkait Iran atau negara sahabat Teheran.

Menurut US Central Command, AS sejauh ini telah menghentikan satu kapal tanker minyak yang terkena sanksi dan satu kapal kargo Iran. Total 28 kapal disebut telah diputarbalikkan.

Spekulasi mengenai bantuan China terhadap upaya perang Teheran sebelumnya juga sempat muncul, meski tingkat keterlibatannya belum jelas. China disebut berperan sebagai pembeli utama minyak Iran dan membantu menopang perekonomian negara tersebut.

Michael Singh, mantan direktur senior Timur Tengah di National Security Council pada masa Presiden George W. Bush, menyatakan bantuan militer tingkat lebih rendah namun tetap signifikan kemungkinan akan terus berlangsung. “Ini bukan sesuatu yang benar-benar berusaha disembunyikan China,” kata Singh.

Ryan Hass, direktur China Center di Brookings Institution di Washington, menilai keputusan Trump yang meremehkan pencegatan kapal dari China tidak mengejutkan. Ia mengatakan Washington dan Beijing sama-sama berupaya menjaga agar konflik Iran tidak mengganggu hubungan AS-China yang lebih luas. “Beijing lebih fokus mempertahankan stabilitas yang rapuh dalam hubungan AS-China,” kata Hass melalui email. Ia menambahkan, Trump juga ingin menunjukkan bahwa ia mengendalikan hubungan dengan China, terutama ketika situasi dengan Iran dan kawasan lain terasa tidak terkendali.

Dalam konteks yang lebih luas, Beijing sebelumnya disebut memberikan bantuan tidak langsung kepada Rusia selama invasi ke Ukraina, termasuk memungkinkan perusahaan komersial China menyediakan citra satelit dan teknologi untuk pembangunan drone. Sementara itu, dalam konflik Timur Tengah saat ini, Moskow juga dilaporkan memberikan Iran berbagai bentuk intelijen, termasuk citra satelit dan taktik penargetan drone.

Rusia dan Iran dalam beberapa tahun terakhir memperdalam kerja sama militer, seiring upaya Moskow mencari dukungan dari sejumlah rival geopolitik AS setelah menghadapi isolasi global akibat invasi ke Ukraina pada 2022.