BERITA TERKINI
Ketegangan di Timur Tengah Guncang Ekonomi Global: IMF Pangkas Proyeksi, Selat Hormuz Lumpuh, FAO Ingatkan Risiko Pangan

Ketegangan di Timur Tengah Guncang Ekonomi Global: IMF Pangkas Proyeksi, Selat Hormuz Lumpuh, FAO Ingatkan Risiko Pangan

Ketegangan di Timur Tengah yang dipicu perang AS dan Israel terhadap Iran, disertai blokade Selat Hormuz serta kebuntuan negosiasi untuk mengakhiri konfrontasi, memunculkan konsekuensi ekonomi serius dalam skala global. Dampaknya merambat dari pasar minyak, gas, dan pupuk hingga rantai pasokan pangan, mendorong sejumlah organisasi internasional mengeluarkan peringatan mengenai risiko perlambatan ekonomi, inflasi, dan ancaman terhadap ketahanan pangan.

Dana Moneter Internasional (IMF) dalam laporan terbaru World Economic Outlook menurunkan proyeksi pertumbuhan dan menilai gangguan di pasar minyak berpotensi menekan pertumbuhan, mengerek inflasi, serta meningkatkan kemungkinan resesi global. Kepala Ekonom IMF Pierre-Olivier Gourinchas menulis bahwa prospek global “tiba-tiba menjadi suram” setelah pecahnya perang di Timur Tengah, yang menurutnya mengganggu lintasan pertumbuhan yang sebelumnya stabil.

Dalam skenario paling optimistis—konfrontasi berakhir lebih cepat dan Selat Hormuz kembali dibuka—IMF memperkirakan pertumbuhan global tetap turun menjadi 3,1% tahun ini, dengan perbandingan 3,4% pada 2025. Angka tersebut lebih rendah dari proyeksi 3,3% yang disampaikan IMF pada Januari, dan juga di bawah perkiraan 3,4% yang telah disiapkan sebelum perang pecah. IMF menekankan bahwa sekalipun perang berlangsung singkat, dampak negatif terhadap ekonomi global dinilai tidak bisa dihindari.

Sementara itu, skenario terburuk—gangguan pasar energi berlanjut hingga tahun depan—diperkirakan akan menyeret pertumbuhan global turun menjadi 2% dan mendorong inflasi naik hingga 6%. Gourinchas menilai potensi risikonya “sangat besar”.

Peringatan IMF muncul ketika para pembuat kebijakan global berkumpul di Washington D.C. untuk pertemuan musim semi IMF dan Bank Dunia. Forum yang semula diperkirakan membahas ketegangan perdagangan, kecerdasan buatan, dan ketidakseimbangan keuangan internasional itu kini bergeser fokusnya ke konsekuensi ekonomi dari perang di Timur Tengah. Dalam konteks pertemuan tersebut, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mendesak IMF dan Bank Dunia berfokus pada misi inti serta mengkritik surplus perdagangan China, namun tidak menyinggung perang di Iran dan dampaknya—isu yang menjadi perhatian utama IMF dan banyak pembuat kebijakan.

Di pusat krisis, Selat Hormuz—jalur pelayaran energi terpenting dunia—dilaporkan mengalami penghentian lalu lintas secara total setelah blokade AS terhadap kapal-kapal yang terkait Iran. Data pelacakan kapal dari Kpler menunjukkan pergerakan melalui selat itu kini nyaris nol, dibandingkan rata-rata sekitar 135 pelayaran per hari sebelum konflik.

Pada awal April, Presiden AS Donald Trump menyatakan Washington dapat dengan cepat “membuka kembali Selat Hormuz”. Namun setelah tiga minggu, kondisi justru berbalik: lalu lintas hampir sepenuhnya terhenti, membuat pernyataan tersebut tidak sejalan dengan perkembangan di lapangan.

Blokade ini berdampak langsung pada penurunan produksi minyak mentah dari kawasan Teluk. Analis Goldman Sachs memperkirakan produksi minyak mentah negara-negara Teluk Persia turun 57% dibanding level sebelum konflik. Bahkan jika selat dibuka kembali, pemulihan disebut dapat memakan waktu berbulan-bulan dan tidak ada jaminan kembali ke tingkat sebelumnya.

Badan Energi Internasional (IEA) menilai penutupan Selat Hormuz, ditambah kerusakan infrastruktur minyak dan gas, telah mendorong lonjakan harga energi. Kehilangan pasokan jangka pendek dan pertumbuhan kapasitas yang lambat dinilai berpotensi memicu kekurangan pasar, sehingga menekan harga energi global hingga 2027. IMF memperkirakan harga minyak naik 21,4% tahun ini, sementara harga gas alam disebut telah meningkat lebih dari 80%.

Konflik berkepanjangan juga memunculkan risiko keselamatan bagi sekitar 20.000 pelaut di ratusan kapal yang terdampar di kawasan Teluk. Perusahaan pelayaran dilaporkan melakukan inspeksi harian, memberikan konseling psikologis, serta memastikan pasokan makanan dan air bersih bagi awak kapal. Di saat yang sama, pergantian kru yang masa kontraknya berakhir menjadi semakin sulit dan mahal.

CEO CMB.TECH Alexander Saverys menyatakan bisnis baru dapat merasa aman ketika kapal dapat berlayar dengan aman dan berkelanjungan di selat tersebut, sebagaimana dikonfirmasi pemerintah negara-negara terkait. Sementara itu, kepala Mitsui OSK Lines menilai fakta bahwa konflik telah berlangsung lebih dari tujuh minggu menjadi indikasi penyelesaian cepat tidak mungkin terjadi, dan dunia kemungkinan tidak segera kembali ke kondisi semula.

Selain energi, tekanan juga menguat pada sistem pangan global. Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) memperingatkan bahwa meningkatnya ketegangan di Timur Tengah memperbesar tekanan pada sistem pertanian dan pangan dunia, di tengah rapuhnya rantai pasokan setelah guncangan pandemi COVID-19 dan konflik Rusia-Ukraina.

Dalam sesi ke-38 Konferensi Regional Timur Dekat dan Afrika Utara FAO di Roma, Direktur Jenderal FAO Qu Dongyu menyatakan ketegangan geopolitik mengganggu arus perdagangan pertanian, meningkatkan biaya transportasi dan asuransi, serta mendorong kenaikan harga pangan, terutama di negara-negara yang bergantung pada impor. Ia menyerukan agar arus perdagangan global dipertahankan dan pembatasan ekspor pangan tidak diperluas, seraya mencatat konflik bersenjata dapat merusak infrastruktur pertanian, menggusur petani, dan menurunkan hasil panen lokal.

Ekonom Dr. Abdullah Al Khater, dalam wawancara dengan Kantor Berita Qatar (QNA), memperingatkan bahwa sekitar 30% permintaan pupuk global bergantung pada pasokan dari wilayah Teluk. Menurutnya, gangguan pasokan dapat memengaruhi lebih dari 30% pertanian global dan memicu kenaikan tajam harga pangan. Ia juga menyebut ekonomi global bergantung pada sekitar 20% minyak, 20% gas, serta energi bersih dari wilayah Teluk—tingkat ketergantungan yang dinilai berpotensi menciptakan krisis ekonomi dan pangan global yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Fitch Ratings mencatat bahwa di Asia, ketegangan di Teluk telah mendorong harga urea naik hingga sekitar US$700 per ton, atau meningkat hampir 50%. Kondisi ini disebut dapat memaksa petani mengurangi penggunaan pupuk atau mengurangi luas lahan tanam, yang pada akhirnya mengikis produksi dan pasokan pangan di kawasan tersebut.

Secara keseluruhan, rangkaian perkembangan ini memunculkan gelombang kejut ekonomi yang disebut berskala besar, dengan dampak yang menjangkau energi, perdagangan, dan pangan. Peringatan IMF terkait risiko resesi dan inflasi, seruan FAO mengenai ketahanan pangan, serta penilaian IEA tentang tekanan berkepanjangan pada pasar energi menjadi sinyal bahwa perekonomian global menghadapi periode ketidakpastian yang tinggi dan membutuhkan respons internasional yang terkoordinasi.