BERITA TERKINI
Ketegangan Iran-AS-Israel Meningkat, Ancaman Gangguan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Lonjakan Harga Energi

Ketegangan Iran-AS-Israel Meningkat, Ancaman Gangguan Selat Hormuz Picu Kekhawatiran Lonjakan Harga Energi

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah disebut mencapai fase kritis seiring meningkatnya konflik yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel. Mantan Minister Fungsi Politik KBRI Teheran periode 2021–2024 yang kini menjadi dosen pascasarjana di LSPR Jakarta, Dr. Joevi, menilai kekuatan Iran saat ini merupakan hasil persiapan strategis yang dibangun selama puluhan tahun.

Menurut Dr. Joevi, penolakan Iran terhadap skema gencatan senjata terbaru menjadi indikasi bahwa situasi masih berada dalam fase eskalasi tinggi. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menimbulkan dampak yang luas, termasuk terhadap stabilitas ekonomi global.

“Persiapan Iran tidak main-main. Mereka telah membangun kesiapan strategis sejak sekitar 40 tahun lalu, mencakup aspek militer, politik, dan ketahanan domestik,” ujar Dr. Joevi dalam keterangannya.

Ia merujuk pada pengamatan atas “Perang 12 Hari” pada Juni 2025, yang disebut menjadi salah satu rujukan bagi pola operasi Iran berikutnya. Dalam operasi pada Maret 2026, Iran dinilai menerapkan pola serangan asymmetric warfare yang lebih efektif, dengan memanfaatkan perangkat keras untuk menguras sumber daya lawan.

Dalam skema yang dijelaskan, drone berbiaya rendah digunakan sebagai umpan untuk menghabiskan sistem pencegat rudal milik pihak lawan yang harganya jauh lebih mahal. Setelah pertahanan melemah, Iran baru meluncurkan rudal berukuran lebih besar ke sasaran strategis. Fokus serangan disebut tetap diarahkan kepada Israel, sementara pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Gulf Cooperation Council (GCC) turut menjadi sasaran untuk melumpuhkan sistem radar dan satelit.

Di luar aspek militer, salah satu dampak yang paling dikhawatirkan adalah terkait kendali Iran atas Selat Hormuz. Dr. Joevi menyebut penguasaan jalur vital tersebut membuka peluang bagi Iran untuk menarik iuran bagi kapal yang melintas, yang pada gilirannya dapat mengancam distribusi minyak dunia.

Sejumlah dampak lanjutan yang diprediksi antara lain terhambatnya distribusi logistik dan minyak global secara masif, lonjakan harga energi dunia, serta tekanan ekonomi berat bagi negara-negara pengimpor energi.

Konflik ini juga disebut memunculkan ancaman pelumpuhan ekonomi bagi Amerika Serikat dan Israel di kawasan, terutama setelah adanya serangan terhadap pusat depot migas Iran di Pulau Kharg pada minggu keempat peperangan.

Di tengah kekhawatiran internasional, Menteri Luar Negeri Iran menegaskan batasan penggunaan kekuatan militer negaranya. Iran menyatakan tidak akan menggunakan senjata nuklir secara langsung terhadap Amerika Serikat. Pernyataan tersebut kembali menegaskan bahwa fokus konfrontasi utama Iran disebut mengarah pada Israel.

Hingga kini, belum ada titik temu terkait persyaratan yang diajukan Iran kepada Amerika Serikat untuk proses de-eskalasi. Dengan belum tercapainya kesepakatan, situasi di kawasan diperkirakan masih berpotensi memanas dalam waktu dekat.