Ketegangan yang melibatkan Iran di kawasan Timur Tengah dinilai berpotensi memicu instabilitas ekonomi global. Dampaknya tidak hanya dirasakan di wilayah konflik, tetapi juga dapat menjalar ke negara lain, termasuk Indonesia.
Dosen Program Studi Administrasi Bisnis Universitas Merdeka Malang, Ginanjar Indra Kusuma Nugraha, menilai posisi Iran yang strategis menjadi faktor penting dalam dinamika ekonomi global. Ia menyoroti peran Iran terkait Selat Hormuz, jalur yang dinilai vital bagi aktivitas ekspor-impor dunia.
Menurut Ginanjar, ketika terjadi ketegangan atau serangan di kawasan tersebut, lalu lintas perdagangan berpotensi tidak berjalan leluasa. Kondisi itu dapat memicu inflasi serta mendorong kenaikan biaya komoditas. Selat Hormuz sendiri dikenal sebagai salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia, sehingga gangguan di wilayah ini berisiko menghambat distribusi minyak mentah dan komoditas strategis lainnya.
Selain faktor jalur perdagangan, Ginanjar juga menekankan posisi Iran sebagai salah satu penopang produksi minyak di Timur Tengah. Ia mengatakan konflik dapat memengaruhi kebijakan ekonomi Iran dan berdampak pada negara-negara yang selama ini bergantung pada pasokan minyak dari kawasan tersebut, termasuk beberapa negara di Timur Tengah dan Eropa.
Apabila harga minyak dunia terdorong naik, Indonesia dinilai berpotensi ikut terdampak mengingat ketergantungan yang masih tinggi pada energi fosil. Ginanjar menyebut, bahkan sebelum konflik pun kondisi ekonomi global sudah tidak stabil dan nilai tukar rupiah sempat tertekan. Kenaikan harga minyak, kata dia, dapat berimbas pada beban subsidi dan struktur Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Sementara itu, dosen mata kuliah ekonomi bisnis, Agung Suwandaru, menilai dampak terhadap Indonesia juga berkaitan dengan sentimen pasar, investasi, serta hubungan ekspor-impor. Ia menyebut ketegangan geopolitik dapat memengaruhi sentimen pasar dan keputusan investasi, sekaligus berpotensi mengganggu arus perdagangan jika hubungan dagang terdampak.
Agung menambahkan, besar kecilnya dampak terhadap Indonesia sangat bergantung pada intensitas keterkaitan ekonomi dengan negara-negara yang terlibat konflik. Namun, ia mengingatkan variabel seperti pergerakan harga minyak dan sentimen global tetap perlu diwaspadai.

