Keterlibatan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) dalam perang Yaman bermula dari tujuan yang sama pada 2015: mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan melawan kelompok Houthi yang merebut ibu kota Sanaa. Namun, seiring berjalannya konflik, perbedaan kepentingan keduanya kian terlihat, terutama terkait masa depan wilayah selatan Yaman.
Konflik Yaman berakar pada transisi politik yang rapuh pasca-Arab Spring. Negara itu jatuh ke dalam perang saudara pada 2014–2015 ketika Houthi—gerakan bersenjata Syiah Zaidi yang didukung secara politik dan logistik oleh Iran—mengambil alih Sanaa dan memaksa pemerintah Presiden Abd-Rabbuh Mansur Hadi melarikan diri ke luar negeri. Runtuhnya pemerintahan ini mendorong Arab Saudi dan sekutunya melancarkan intervensi militer pada 2015 untuk memulihkan pemerintahan Hadi dan menahan apa yang dipersepsikan Riyadh sebagai perluasan pengaruh Iran di perbatasan selatannya.
Pada Maret 2015, Arab Saudi membentuk koalisi militer yang melibatkan UEA, Bahrain, Kuwait, dan negara lain untuk menghadapi Houthi. Secara resmi, koalisi itu bertujuan mengembalikan pemerintahan Hadi dan menahan kelompok yang dianggap bersekutu dengan Iran. Meski berada dalam payung yang sama, strategi Saudi dan UEA sejak awal tidak sepenuhnya sejalan.
Saudi berfokus pada konfrontasi langsung dengan Houthi serta pemulihan otoritas pemerintahan pusat Yaman. Sementara itu, UEA mengambil pendekatan yang lebih luas: selain melawan Houthi, Abu Dhabi membangun pasukan keamanan lokal di wilayah selatan dan memperluas pengaruh melalui kelompok-kelompok proksi. Di antaranya adalah Security Belt Forces dan Hadrami Elite Forces, yang kemudian menjadi bagian penting dari dinamika politik di selatan.
Dalam fase awal perang, pasukan koalisi—terutama UEA—membantu mengusir Houthi dari Aden dan Abyan pada 2015–2016. Pada April 2016, UEA memimpin operasi untuk merebut Mukalla dari Al-Qaeda in the Arabian Peninsula (AQAP). Pada 2018, UEA juga sempat mengerahkan pasukan ke Pulau Socotra yang strategis. Langkah itu kemudian dibatalkan melalui mediasi Saudi, tetapi peristiwa tersebut menandai mulai tampaknya perbedaan kepentingan kedua negara.
Ketegangan semakin jelas ketika pada 2017 UEA mendukung pembentukan Southern Transitional Council (STC), entitas politik-militer yang memperjuangkan otonomi hingga kemerdekaan Yaman selatan. Dukungan ini berseberangan dengan prioritas Saudi yang menghendaki Yaman tetap bersatu. Seiring waktu, STC berkembang menjadi mitra utama UEA di Yaman, terutama setelah Abu Dhabi mulai mengurangi keterlibatan militernya secara langsung.
Pada 2019, UEA secara resmi menarik sebagian besar pasukan daratnya dari Yaman dengan alasan peninjauan ulang strategi dan perbedaan pandangan dengan Riyadh. Meski begitu, dukungan terhadap STC disebut tetap berlanjut melalui pelatihan, pendanaan, dan kehadiran pasukan khusus yang terbatas. Dalam rentang 2015–2019, Aden menjadi salah satu titik panas, ketika pasukan pemerintah yang didukung Saudi berulang kali bentrok dengan STC yang didukung UEA, memperlihatkan keretakan di dalam koalisi anti-Houthi.
Upaya politik untuk meredakan ketegangan dilakukan melalui Perjanjian Riyadh pada 2019, yang bertujuan mengintegrasikan STC ke dalam pemerintahan persatuan Yaman, termasuk pembagian kursi kabinet dan pengaturan penarikan pasukan. Namun implementasinya berulang kali gagal, dan situasi tetap rapuh. Pada periode 2020–2024, medan perang relatif stagnan, sementara krisis kemanusiaan memburuk—ditandai kelaparan, pengungsian massal, serta runtuhnya infrastruktur dasar.
Memasuki 2025–2026, keretakan Saudi–UEA disebut semakin terbuka. Pada Desember 2025, STC yang didukung UEA melancarkan ofensif cepat di Yaman selatan—disebut oleh sejumlah analis sebagai Operation Promising Future—dan dalam waktu singkat menguasai Provinsi Hadramaut, Mahra, serta kota-kota strategis seperti Aden dan Mukalla, termasuk pelabuhan dan infrastruktur penting. Perkembangan ini secara de facto memberi STC kendali atas wilayah yang diasosiasikan dengan bekas Yaman Selatan, sebuah capaian yang bertentangan dengan kepentingan Saudi.
Arab Saudi memandang ekspansi STC sebagai ancaman terhadap keamanan nasionalnya karena dinilai melemahkan pemerintahan Yaman yang didukung Riyadh, membuka peluang lahirnya negara selatan yang independen di perbatasannya, serta menggeser keseimbangan pengaruh dari Saudi ke UEA. Sebagai respons, jet tempur Saudi menyerang posisi-posisi yang terkait STC dan sebuah pengiriman senjata yang diduga berasal dari UEA di Pelabuhan Mukalla. Saudi juga menuntut penarikan penuh pasukan UEA dari Yaman, yang memperuncing ketegangan bilateral.
Pada 30 Desember 2025, UEA mengumumkan penarikan penuh unit kontra-terorisme yang tersisa di Yaman, dengan menyatakan langkah itu bersifat sukarela dan strategis setelah keterlibatan terbatas pasca-2019. Di saat yang sama, STC mendeklarasikan rencana masa transisi dua tahun menuju kemerdekaan Yaman Selatan, menghidupkan kembali realitas politik sebelum penyatuan Yaman pada 1990. Langkah ini semakin menegaskan perbedaan posisi: Saudi tetap mendukung Yaman yang bersatu, sementara mitra utama UEA di lapangan mendorong pemisahan.
Perbedaan tersebut juga mencerminkan kompetisi geopolitik yang lebih luas. Saudi memprioritaskan penahanan pengaruh Iran melalui Houthi dan menginginkan negara tetangga yang bersatu serta bersahabat. Sementara UEA menitikberatkan kemitraan lokal, pengaruh atas pelabuhan, jalur perdagangan, serta kedalaman strategis di kawasan Laut Merah dan Teluk Aden. Akibatnya, koalisi anti-Houthi semakin terfragmentasi di tengah krisis kemanusiaan yang terus menekan warga Yaman.
Dalam perkembangan terbaru, dilaporkan Arab Saudi bersama pemerintah Yaman yang didukung Riyadh berhasil merebut kembali Mukalla dari STC. Selain itu, serangan udara Saudi terhadap posisi STC di Hadramaut dilaporkan meningkat menyusul deklarasi rencana transisi menuju kemerdekaan. Rangkaian peristiwa ini menandai babak baru konflik: perang yang semula mempertemukan sekutu Teluk melawan Houthi kini juga diwarnai pertarungan visi tentang masa depan Yaman, khususnya terkait status wilayah selatan.

