Konflik bersenjata di Timur Tengah memicu dampak luas terhadap ekonomi global. Selain meningkatkan ketegangan geopolitik, perang ini turut mengganggu jalur distribusi energi, merusak infrastruktur industri, serta mendorong kenaikan harga energi yang kemudian memengaruhi proyeksi pertumbuhan sejumlah negara.
Sejumlah pemerintah dan pelaku industri menghadapi tekanan berlapis akibat kenaikan biaya energi, gangguan produksi, hingga kebijakan darurat untuk menjaga stabilitas ekonomi domestik.
Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai pulih
Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai menunjukkan tanda pemulihan setelah sempat terganggu akibat perang di Timur Tengah. Data pelacakan Marine Traffic mencatat beberapa kapal, termasuk milik Perancis dan Jepang, melintasi jalur strategis tersebut pada Kamis (2/4/2026).
Selat Hormuz merupakan jalur vital distribusi minyak dan gas alam cair dunia. Jalur ini sebelumnya terhambat setelah konflik dipicu serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.
Selain melintasi Selat Hormuz, tiga kapal tanker juga tercatat menggunakan rute alternatif di bagian selatan, mendekati Semenanjung Musandam di Oman. Menurut laporan Lloyd’s List, perlintasan ini menjadi yang pertama dalam hampir tiga minggu.
Kerusakan industri energi dan gangguan produksi
Konflik juga berdampak langsung pada infrastruktur energi di kawasan Teluk. Kebakaran di sebuah kompleks gas di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, dilaporkan menewaskan satu orang dan melukai empat lainnya. Otoritas setempat menyebut kebakaran itu dipicu oleh puing serangan yang berhasil dicegat dan mengakibatkan kerusakan signifikan pada fasilitas tersebut.
Di sisi lain, Emirates Global Aluminium memperkirakan pemulihan produksi penuh dapat memakan waktu hingga satu tahun setelah fasilitasnya terdampak serangan rudal Iran. Serangan terhadap fasilitas industri ini disebut berkaitan dengan tuduhan Iran bahwa pabrik-pabrik tersebut mendukung kebutuhan militer Amerika Serikat.
Harga energi naik, proyeksi pertumbuhan ekonomi terkoreksi
Kenaikan harga energi yang dipicu konflik mulai menekan proyeksi pertumbuhan ekonomi. Bank Sentral Italia, misalnya, menurunkan perkiraan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) menjadi 0,5 persen untuk tahun ini dan tahun depan.
Revisi proyeksi tersebut dilakukan setelah bank sentral menilai lonjakan harga energi terjadi secara tiba-tiba akibat konflik, sehingga meningkatkan tekanan terhadap prospek ekonomi.

