Indonesia dinilai tidak lagi hanya mengandalkan laju pertumbuhan ekonomi untuk menarik arus modal global. Di tengah kondisi ekonomi dunia yang kian tidak pasti, konsistensi kebijakan disebut menjadi faktor kunci yang memperkuat daya tarik investasi ke Tanah Air.
Chief Economist IQI Global, Shan Saeed, menilai profil makroekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 menunjukkan fondasi yang semakin solid. Menurutnya, kondisi tersebut membuat Indonesia semakin layak menjadi tujuan investasi meski tekanan global meningkat.
Dalam riset terbarunya, Shan menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi saja tidak cukup untuk menarik kapital. Ia menekankan pentingnya disiplin dan konsistensi kebijakan, yang menurutnya terlihat pada pendekatan Indonesia dalam menjaga stabilitas.
Pendekatan menjaga stabilitas—alih-alih ekspansi agresif—dinilai tepat di tengah tekanan harga energi, ketatnya likuiditas global, dan volatilitas pasar. Strategi itu disebut membuat ekonomi Indonesia lebih tahan terhadap guncangan.
Dari sisi kinerja, pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap stabil di kisaran 5%, dengan proyeksi tahunan 5,0% hingga 6,0%. Struktur pertumbuhan dinilai kuat karena didorong konsumsi domestik yang mencapai 53% dari PDB dan investasi pada kisaran 30%–31%.
Transformasi ekspor dan ketahanan eksternal
Dari sisi eksternal, kualitas ekspor Indonesia disebut terus meningkat. Komoditas seperti batu bara, kelapa sawit, dan nikel masih mendominasi, namun pergeseran menuju hilirisasi logam serta rantai pasok kendaraan listrik dinilai semakin terlihat.
Nilai ekspor pada kuartal I-2026 diperkirakan berada pada rentang US$62 miliar hingga US$65 miliar, dengan neraca perdagangan tetap mencatat surplus. Kondisi ini dipandang mencerminkan penguatan posisi Indonesia dalam rantai nilai global.
Stabilitas eksternal juga tercermin dari defisit transaksi berjalan yang terjaga sekitar 1% dari PDB. Cadangan devisa disebut mencapai sekitar US$150 miliar atau setara enam bulan impor, yang dinilai menjadi bantalan terhadap tekanan eksternal.
Nilai tukar rupiah yang bergerak pada kisaran Rp16.000 hingga Rp16.700 per dolar AS juga dianggap menunjukkan penyesuaian yang sehat dan terkendali, dengan penekanan bahwa pasar cenderung dapat menerima depresiasi selama berlangsung tertib.
Disiplin moneter dan fiskal
Dari sisi kebijakan, Shan menilai disiplin menjadi fondasi utama. Bank Indonesia disebut menjaga suku bunga pada kisaran 4,75%–5,00% untuk mengendalikan inflasi sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar. Inflasi dilaporkan berada pada rentang 3%–3,6%.
Di sisi fiskal, kebijakan juga dinilai berhati-hati. Defisit anggaran diproyeksikan sekitar 2,5% dari PDB, dengan rasio utang pemerintah di kisaran 40%.
FDI dan peluang pasar
Aliran investasi asing langsung (FDI) diperkirakan mencapai US$13 miliar hingga US$15 miliar pada kuartal I-2026. Fokus investasi disebut mengarah ke sektor strategis seperti hilirisasi nikel, kendaraan listrik, energi, dan manufaktur.
Dalam konteks pasar keuangan, peluang investasi dinilai semakin menarik. Obligasi pemerintah disebut menawarkan imbal hasil riil yang kompetitif, sementara rupiah dinilai memberikan stabilitas carry. Pasar saham juga disebut mendapat dukungan dari sektor keuangan, komoditas, dan ekosistem kendaraan listrik.
Shan menempatkan Indonesia dalam kategori “quality emerging markets”, yakni negara berkembang yang mampu menjaga stabilitas di tengah tekanan global. Meski begitu, ia mengingatkan adanya risiko yang tetap perlu dicermati, seperti potensi lonjakan harga minyak di atas US$120 per barel yang dapat menekan subsidi dan inflasi, pengetatan likuiditas global, serta perlambatan ekonomi China.
Namun secara keseluruhan, risiko tersebut dinilai masih dapat dikelola dengan kerangka kebijakan yang ada. Menurut Shan, Indonesia tidak kebal terhadap guncangan, tetapi memiliki struktur yang cukup kuat untuk menyerap tekanan dan tetap bergerak stabil.

