Krisis di Timur Tengah dinilai berpotensi mengalihkan fokus Amerika Serikat dari kawasan Asia Tenggara untuk sementara waktu. Sejumlah pengamat menilai kondisi tersebut dapat membuka ruang yang lebih besar bagi Republik Rakyat China untuk memperkuat pengaruhnya di kawasan.
Menurut pandangan para pengamat, berkurangnya perhatian AS dapat mengurangi peran penyeimbang terhadap China, terutama dalam dinamika keamanan regional. Situasi ini dinilai berpotensi meningkatkan ketegangan di Laut China Selatan, yang selama ini menjadi salah satu titik konflik bagi sejumlah negara.
Pandangan itu disampaikan dalam seminar bertajuk “Keketuaan Filipina dan Diplomasi China di ASEAN” yang digelar Forum Sinologi Indonesia (FSI) di Jakarta, Senin (27/4/2026).
Ketua FSI Johanes Herlijanto mengatakan ketegangan di kawasan sebenarnya telah berlangsung dalam dua dekade terakhir. “Dalam 20 tahun terakhir, China telah bersitegang dengan Vietnam, Indonesia, dan Filipina terkait klaim wilayah ZEE,” ujar Johanes, yang juga akademisi Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Pelita Harapan (UPH).
Ia menambahkan, klaim China melalui konsep nine dash line dinilai bertentangan dengan United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) oleh negara-negara Asia Tenggara.