BERITA TERKINI
Larry Fink: Konflik Iran Berkepanjangan Berisiko Dorong Resesi Global Lewat Kenaikan Harga Energi

Larry Fink: Konflik Iran Berkepanjangan Berisiko Dorong Resesi Global Lewat Kenaikan Harga Energi

CEO BlackRock Larry Fink memperingatkan ekonomi global berisiko masuk ke jurang resesi jika konflik Iran berlangsung lebih dari satu tahun. Menurutnya, perang yang berkepanjangan akan mendorong kenaikan harga energi dan menekan aktivitas ekonomi di berbagai negara.

“Jika perang berlarut-larut selama setahun, harga energi akan semakin naik dan ekonomi global akan memasuki resesi,” kata Fink dalam wawancara dengan EL PAÍS.

Fink menilai arah perekonomian sangat bergantung pada hasil konflik. Ia menyebut, apabila kawasan menjadi lebih stabil dan Iran terbuka, harga minyak berpotensi turun. Namun, bila ketegangan berlanjut, harga energi dapat meningkat lebih tinggi dan memberi tekanan pada pasar keuangan global.

Dalam skenario kenaikan energi yang berkelanjutan, Fink menegaskan pelemahan pasar saham tidak semata dipicu persoalan valuasi, melainkan karena perubahan kondisi makroekonomi. Ia melihat lonjakan biaya energi sebagai faktor yang dapat memperburuk sentimen dan memperbesar risiko perlambatan.

Di tengah ketidakpastian, Fink tetap mendorong pendekatan investasi jangka panjang. Ia menilai fokus berlebihan pada gejolak jangka pendek dapat merugikan masyarakat dan memperlebar kesenjangan, terutama bagi kelompok yang tidak berinvestasi.

Fink juga menyoroti pergeseran arah globalisasi menuju model yang lebih mandiri. Menurutnya, negara-negara diperkirakan akan mengurangi ketergantungan pada rantai pasok global, meski langkah tersebut dinilai lebih mahal dalam jangka pendek.

Selain itu, ia mengingatkan dampak besar kecerdasan buatan (AI) terhadap pasar tenaga kerja dan ketimpangan. Fink menilai dunia belum cukup siap menghadapi perubahan itu, sementara kebutuhan investasi di sektor energi dan infrastruktur akan meningkat.

Dalam konteks Eropa, Fink menyebut Spanyol sebagai salah satu titik terang pertumbuhan. Ia menilai negara tersebut memiliki perusahaan global, infrastruktur yang kuat, dan ekonomi yang relatif dinamis.

BlackRock, kata Fink, terus memperluas bisnis, termasuk di aset alternatif dan proyek global seperti rekonstruksi Ukraina. Ia menegaskan fokus perusahaan tetap pada solusi investasi jangka panjang di tengah ketidakpastian geopolitik.