BERITA TERKINI
Likuiditas Perbankan Masih Memadai, Pertumbuhan M0 Melambat ke 16,8% pada Maret 2026

Likuiditas Perbankan Masih Memadai, Pertumbuhan M0 Melambat ke 16,8% pada Maret 2026

JAKARTA — Likuiditas perbankan nasional dinilai masih berada dalam kondisi memadai untuk menjaga stabilitas pendanaan dan mendukung penyaluran kredit. Namun, perbankan tetap perlu mengelola likuiditas dan biaya dana secara hati-hati di tengah meningkatnya volatilitas pasar keuangan global.

Berdasarkan BRI Weekly Economic Update W4 April 2026 yang disusun Office of Chief Economist Group BRI, pertumbuhan uang primer atau M0 adjusted melambat tipis menjadi 16,8% secara tahunan (year on year/yoy) pada Maret 2026, dari 18,3% yoy pada Februari 2026.

Meski melambat, pertumbuhan M0 yang masih dua digit mencerminkan basis likuiditas sistem moneter domestik yang tetap solid. Dalam laporan tersebut, M0 adjusted menggambarkan uang kartal yang beredar serta giro bank umum di Bank Indonesia setelah menetralkan dampak insentif makroprudensial, sehingga dinilai lebih merefleksikan kondisi uang primer.

Di sisi lain, jumlah uang beredar dalam arti luas (M2) justru meningkat menjadi 9,7% yoy pada Maret 2026, dari 8,7% yoy pada bulan sebelumnya. Kenaikan ini menunjukkan likuiditas domestik yang masih cukup kuat untuk menopang aktivitas ekonomi, menjaga stabilitas funding perbankan, sekaligus mendukung ruang penyaluran kredit.

Pertumbuhan uang beredar dalam arti sempit (M1) juga tercatat solid sebesar 14,4% yoy. Kinerja ini terutama ditopang oleh pertumbuhan giro rupiah yang melonjak 26,4% yoy serta tabungan rupiah yang dapat ditarik sewaktu-waktu yang masih tumbuh 7,4% yoy. Pertumbuhan M1 yang tetap dua digit mengindikasikan aktivitas transaksi masyarakat dan korporasi masih terjaga.

Laporan tersebut menilai kondisi ini membuka ruang bagi permintaan kredit yang berpotensi tetap bertahan seiring aktivitas transaksi ekonomi yang diperkirakan masih resilien. Namun, dominasi sumber dana yang lebih likuid juga mengandung risiko karena struktur pendanaan perbankan dapat menjadi lebih volatil. Pergerakan dana berpotensi berlangsung lebih cepat ketika persepsi risiko berubah, terutama dalam situasi pasar global yang tidak menentu.

Sejalan dengan itu, pertumbuhan uang kuasi meningkat menjadi 5,2% yoy pada Maret 2026, dari 3,1% yoy pada Februari 2026. Kenaikan uang kuasi masih ditopang oleh simpanan berjangka yang tumbuh 4,4% yoy dan memiliki porsi terbesar dalam struktur uang kuasi, sementara komponen dengan pertumbuhan tertinggi adalah tabungan lainnya yang naik 16,1% yoy.

Struktur tersebut memperlihatkan likuiditas perbankan yang masih memadai, tetapi pengelolaannya perlu tetap prudent. Bank disebut perlu mencermati sensitivitas risiko likuiditas karena kombinasi antara dana likuid, tekanan nilai tukar, dan volatilitas pasar global dapat memengaruhi stabilitas funding.

Dari sisi faktor pembentuk M2, aktiva luar negeri bersih meningkat menjadi 2,7% yoy pada Maret 2026, dari 2,0% yoy pada Februari 2026. Kenaikan ini mencerminkan membaiknya posisi likuiditas eksternal dan adanya dukungan likuiditas valuta asing dalam sistem keuangan domestik.

Pada saat yang sama, aktiva dalam negeri bersih tumbuh 11,7% yoy, meningkat dari 10,6% yoy pada bulan sebelumnya. Tagihan kepada sektor lainnya masih menjadi komponen utama aktiva dalam negeri bersih, meskipun pertumbuhannya melambat tipis menjadi 8,8% yoy.

Sementara itu, tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat melonjak 39,8% yoy seiring percepatan realisasi belanja pemerintah pada awal tahun. Peningkatan ini disebut ikut memperkuat ruang likuiditas domestik dan memberi bantalan bagi perbankan untuk menjaga stabilitas pendanaan.

BRI juga menempatkan perkembangan likuiditas domestik dalam konteks global yang lebih menantang. IMF merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2026 sebesar 0,2 poin persentase menjadi 3,1%, dengan tekanan lebih besar pada negara berkembang dibanding negara maju. Revisi tersebut dikaitkan dengan meningkatnya sensitivitas ekonomi global terhadap guncangan eksternal, terutama kenaikan harga energi, ketidakpastian geopolitik, dan pengetatan kondisi finansial global.

Tekanan inflasi global turut meningkat. Estimasi inflasi CPI global naik dari sekitar 3,22% yoy pada awal Maret 2026 menjadi 3,91% yoy pada akhir April 2026. Kenaikan ini mengindikasikan guncangan harga energi dan biaya logistik akibat konflik di Timur Tengah mulai tertransmisikan ke harga konsumen global.

Dalam situasi tersebut, ruang pelonggaran moneter global dinilai terbatas. Pasar masih memperkirakan The Fed mempertahankan Fed Funds Rate di level 3,75% pada FOMC April 2026 seiring risiko inflasi yang tetap bertahan. Ekspektasi suku bunga AS yang tetap tinggi berpotensi menjaga yield global tetap tinggi, memperketat kondisi likuiditas, dan menahan aliran modal ke emerging markets.

Di dalam negeri, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 4,75% dalam RDG 22 April 2026 untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Kebijakan ini menunjukkan stabilitas rupiah masih menjadi prioritas di tengah tekanan eksternal, meskipun BI tetap mendukung pertumbuhan melalui kebijakan makroprudensial yang pro-growth.

Bagi industri perbankan, kombinasi likuiditas domestik yang masih memadai dan tekanan global yang meningkat menghadirkan dua sisi yang harus dikelola bersamaan. Di satu sisi, pertumbuhan M2, M1, dan dukungan aktiva dalam negeri memberi ruang bagi penyaluran kredit. Di sisi lain, volatilitas global, kenaikan harga minyak, tekanan rupiah, dan suku bunga global yang tinggi membuat pengelolaan likuiditas serta cost of fund tetap menjadi tantangan utama.

Dengan demikian, likuiditas perbankan dinilai masih cukup untuk mendukung fungsi intermediasi. Namun, ruang tersebut bukan tanpa risiko, sehingga perbankan perlu menjaga keseimbangan antara ekspansi kredit, stabilitas pendanaan, dan kehati-hatian di tengah pasar global yang masih bergejolak.