BERITA TERKINI
Menelusuri Ci Tarum dan Ci Manuk dalam Peta VOC MS VEL 1161 (1677–1678)

Menelusuri Ci Tarum dan Ci Manuk dalam Peta VOC MS VEL 1161 (1677–1678)

Peta kerap menjadi alat penting untuk memahami sekaligus mengendalikan sebuah wilayah. Pada masa VOC, pemetaan tidak sekadar dokumentasi geografis, melainkan juga bagian dari kepentingan strategis. VOC datang ke Nusantara dengan berbekal peta Portugis, lalu mendata pelabuhan-pelabuhan untuk memperoleh gambaran besar wilayah yang mereka datangi. Upaya panjang survei dan pemetaan ini kemudian terlihat pada peta-peta yang lebih terperinci pada awal abad ke-18, termasuk peta Pulau Jawa buatan François Valentijn (1728) yang menggambarkan wilayah Priangan dengan dua sungai transportasi utama: Ci Tarum (Rivier Carawang) dan Ci Manuk (Riv.[ier] Indramaja).

Namun, sebelum peta Valentijn terbit, terdapat peta pesisir utara Jawa Barat era VOC yang dibuat sekitar 50 tahun lebih awal. Peta manuskrip itu dikenal sebagai MS VEL 1161, yang memberi petunjuk bagaimana kawasan sekitar Ci Tarum dan Ci Manuk direkam pada akhir abad ke-17, termasuk bagian mana yang sudah dipetakan rinci dan mana yang masih minim informasi.

MS VEL 1161 berjudul Kaart van Een Deel van het Eiland Java van de Hoek van Bangay tot aan de Grens van het Cheribonse Gebied (Peta Bagian Pulau Jawa dari Tanjung Bangay hingga Perbatasan Wilayah Cheribon). Peta ini tercatat dalam katalog peta P.A. Leupe dan kemudian hadir dalam Atlas Induk VOC Vol. I yang disusun G. Knaap. Diperkirakan dibuat pada 1677–1678, peta tersebut kini menjadi koleksi Nationaal Archief (NA) Belanda dengan kode arsip VEL 1161. Karena berbentuk manuskrip, peta itu disebut MS (manuscript) VEL 1161.

Dalam pembacaan elemen-elemen peta, MS VEL 1161 tampak bersifat praktis dan minim dekorasi. Peta ini tidak memiliki cartouche (bingkai dekoratif berisi judul/pembuat/tahun), sehingga informasi judul dan perkiraan tahun pembuatannya diperoleh dari katalog Leupe, bukan dari badan peta. Di sudut kanan atas terdapat compass rose sederhana yang menunjukkan empat arah mata angin dengan orientasi utara; arah utara ditandai hiasan fleur-de-lys. Skala peta berada di bagian tengah bawah, menggunakan satuan Duytsche mylen (mil Belanda, sekitar 7,4 kilometer), dengan garis skala terbagi 12 satuan dan subdivisi hingga ¼.

Peta ini juga tidak memiliki legenda. Simbol-simbol ditampilkan apa adanya, antara lain garis merah bata berbayang biru pudar untuk garis pantai, garis merah bata untuk jalur sungai, serta simbol pemukiman dan formasi pegunungan. Tidak ditemukan koordinat, bingkai tepi (neatline), maupun sisipan peta (inset). Meski demikian, terdapat beberapa catatan tulisan tangan era VOC untuk menjelaskan area tertentu, misalnya “Carang Sondalang chilla maja of schadelijke hoek” (tanjung yang berbahaya) dan “Duisverre Strekt t’ gebied van het Cheribon” (wilayah Cirebon membentang panjang dan luas).

Secara materi pokok, MS VEL 1161 menggambarkan Pesisir Utara Jawa Barat: garis pantai yang berliku, muara-muara sungai, jalur sungai menuju pedalaman, serta sungai yang tidak dapat dijelajahi. Rangkaian penamaan lokasi di sepanjang pesisir dari barat ke timur dimulai dari muara Ci Tarum, lalu berlanjut ke Blatsians Spruyt, Hoek van Bangaij (menurut Knaap, Tanjung Bungin), Packis (Tanjung Pakis), moordenaars R.[ivier], Barakan, Sedare, hingga mendekati Cirebon melewati Tsiparagi, Chillamaja, Ci Asem (belum dinamai), Ci Punagara (belum dinamai), dan seterusnya sampai Cheribon (Cirebon). Peta kemudian berakhir pada sebuah sungai yang disebut sebagai jalur menuju Tsiavi onder gabang (Ciawigebang), atau pedalaman Kabupaten Kuningan.

Menariknya, meski nama Ci Tarum dan Ci Manuk belum tercantum secara eksplisit dalam MS VEL 1161, keduanya dapat diidentifikasi dengan membandingkannya dengan peta Valentijn. Untuk Ci Tarum, salah satu penanda yang disebut adalah Tanjoungpoura (Tanjungpura) sebagai pemukiman pertama dari arah muara. Setelah itu tercatat Wrijugpettoe, Goedegoedok, hingga Bandon (Bandung era VOC). Peta juga memperlihatkan sebuah anak sungai Ci Tarum—diduga Ci Sokan—yang digambarkan sebagai jalur transportasi menuju pedalaman sekitar Karawang–Cianjur–Sukabumi–Bogor. Sejumlah toponimi lain dicatat dengan ejaan yang bila dilafalkan terdengar mirip nama-nama kawasan setempat, seperti Tsiengintis (Cigentis), Tsiekordul (Cikundul), Tsiemapak (Cimapag), dan Chelintsie (Cileungsi).

Sementara itu, Ci Manuk dapat dikenali melalui penciri Indermajoe atau Indramaja. Di sepanjang kanan-kiri aliran sungai ini, peta mencatat pemukiman dalam jumlah besar—sekitar 50 pemukiman di sekitar arus utama, belum termasuk yang berada di anak-anak sungainya. Dari muara, deretan lokasi dimulai dari Passehan (Pasekan), Sindang, Indernajoe (Indramayu), lalu berlanjut hingga mencapai Talaga. Melalui anak-anak sungainya, jalur transportasi ini juga digambarkan bisa menjangkau Samaggang (Sumedang) di kaki Deberg Tonponmaas (Gunung Tampomas).

Secara keseluruhan, MS VEL 1161 dapat dibaca sebagai peta survei pantai–daratan yang fungsional bagi VOC. Peta ini merepresentasikan garis pantai, muara sungai yang menembus pedalaman, penamaan titik-titik penting di sepanjang pesisir, serta beberapa jalur sungai yang menghubungkan pantai dengan dataran pegunungan di pedalaman. Dengan karakter itu, peta berfungsi sebagai alat navigasi dasar dan kemungkinan juga sebagai intelijen geografis yang menampilkan rute pergerakan sungai serta potensi hubungan antara pesisir dan pusat-pusat lokal dari Karawang hingga Cirebon pada akhir abad ke-17.

Peta tersebut juga memperlihatkan ketimpangan tingkat pengetahuan VOC pada masa itu: pada 1677–1678, area di sisi kiri peta—wilayah sepanjang Ci Tarum hingga ke pedalaman—masih relatif belum dikenal dan minim rincian, berbanding terbalik dengan area arus utama Ci Manuk yang tercatat jauh lebih terperinci.