Jakarta — Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan stabilitas ekonomi Indonesia masih terjaga di tengah ketidakpastian global yang dipicu eskalasi geopolitik dan tekanan aktivitas ekonomi dunia. Pernyataan itu disampaikan dalam Rapat Kerja Komisi XI DPR RI bersama Menteri Keuangan, Senin, 6 April 2026.
Purbaya menjelaskan, sejak awal tahun Indonesia menghadapi tekanan bertubi-tubi. Ia menyebut adanya isu terkait MSCI yang berkaitan dengan pembekuan penilaian ulang saham Indonesia, disusul langkah lembaga pemeringkat Moody’s Ratings dan Fitch Ratings yang menurunkan peringkat utang Indonesia. Setelah situasi dinilai mulai mereda, muncul perang di Timur Tengah yang kembali menambah ketidakpastian.
Menurut Purbaya, rangkaian tekanan tersebut menjadi tantangan berat bagi kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta perekonomian nasional. Ia menilai, apabila tidak dikelola dengan baik, Indonesia berisiko mengalami perlambatan seperti sejumlah negara di kawasan yang terdampak kenaikan harga minyak dan keterbatasan pasokan bahan bakar minyak (BBM), sehingga terpaksa menaikkan harga BBM.
Meski demikian, Purbaya menegaskan kondisi ekonomi Indonesia masih relatif stabil. Ia menyebut stabilitas itu tercermin dari sejumlah indikator utama, termasuk aktivitas sektor riil yang dinilai tetap positif. Salah satu indikator yang disorot adalah kinerja industri manufaktur yang disebut terus berada dalam fase ekspansif selama delapan bulan berturut-turut.
Purbaya mengakui indeks Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Maret 2026 mengalami penurunan tipis ke level 50,1. Namun, angka itu masih berada di atas ambang 50 yang menandakan sektor manufaktur tetap berada pada fase ekspansif.
Ia menilai penurunan tipis PMI pada Maret terjadi karena kekhawatiran pelaku industri terhadap potensi rambatan dampak perang di Timur Tengah terhadap perekonomian Indonesia. Purbaya menambahkan, pada Februari PMI sempat naik ke level 53. Ia meyakini pelemahan pada Maret bersifat sementara dan optimistis PMI akan kembali menguat seiring keyakinan bahwa dampak terhadap ekonomi domestik tidak signifikan.

