BERITA TERKINI
Menlu Singapura: Selat Malaka Lebih Rentan daripada Selat Hormuz Jika Konflik AS–China Pecah

Menlu Singapura: Selat Malaka Lebih Rentan daripada Selat Hormuz Jika Konflik AS–China Pecah

Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan menilai ketegangan geopolitik di Selat Hormuz hanya menjadi gambaran awal dari potensi konflik yang lebih besar di kawasan Pasifik. Ia menyebut pusat ketegangan global saat ini bukan berada di Timur Tengah, melainkan pada hubungan strategis Amerika Serikat dan China di kawasan Indo-Pasifik.

Balakrishnan mengatakan, apabila hubungan kedua negara memburuk hingga memicu konflik, Selat Malaka akan menjadi titik yang paling krusial bagi stabilitas global. “Bahaya utamanya adalah jika hubungan itu retak akibat perang di Pasifik. Apa yang Anda saksikan sekarang di Selat Hormuz hanyalah latihan awal,” ujarnya dalam forum CNBC Converge Live di Singapura, seperti dikutip dari South China Morning Post, Selasa (28/4/2026).

Menurut Balakrishnan, posisi Selat Malaka menjadikannya jalur strategis utama yang berkaitan langsung dengan kepentingan perdagangan global. Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga jalur tersebut tetap terbuka dan tidak terganggu oleh konflik maupun kebijakan sepihak.

Ia juga menyampaikan bahwa Singapura, Malaysia, dan Indonesia memiliki kepentingan bersama untuk memastikan Selat Malaka tetap dapat dilalui secara aman, termasuk dari kemungkinan munculnya wacana pungutan biaya tol di jalur tersebut.

Dalam sesi yang sama, Balakrishnan turut menanggapi pertanyaan mengenai tekanan geopolitik dari Amerika Serikat dan China agar negara-negara Asia Tenggara memilih pihak. Ia menyatakan Singapura sejauh ini tidak mengalami tekanan langsung untuk berpihak.

Balakrishnan menekankan kuatnya kepentingan ekonomi kedua negara di Asia Tenggara. Ia menyebut investasi Amerika Serikat di kawasan tersebut sangat besar, bahkan lebih besar dibanding gabungan beberapa negara besar lainnya. Sementara itu, China juga disebut sebagai salah satu sumber utama investasi asing bagi Singapura.

Ia menilai, dengan kepentingan ekonomi yang kuat dari kedua negara di kawasan, stabilitas dan keterbukaan jalur strategis seperti Selat Malaka menjadi faktor penting yang tidak boleh terganggu.