PT Telkom Data Ekosistem (NeutraDC Group) memperkuat posisinya sebagai Digital Ecosystem Hub melalui percepatan kolaborasi strategis dan peningkatan kapabilitas layanan sebagai enabler kecerdasan artifisial (AI). Langkah ini disebut sebagai respons atas meningkatnya kebutuhan komputasi berbasis AI, sekaligus upaya memperkokoh fondasi kedaulatan data Indonesia di tengah kompetisi infrastruktur digital yang kian ketat.
CEO NeutraDC Group, Andreuw Th.A.F, mengatakan penguatan positioning tersebut mencerminkan arah strategis perusahaan dalam menghadapi fase pertumbuhan digital berikutnya. Memasuki tahun keempat, anak usaha PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk yang berfokus pada bisnis pusat data itu menegaskan kesiapan untuk membangun infrastruktur sekaligus mendukung akselerasi pemanfaatan AI.
“Kami membangun infrastruktur yang tidak hanya andal dan aman, tetapi juga siap mendukung akselerasi AI. Melalui kolaborasi lintas ekosistem, NeutraDC ingin memastikan Indonesia memiliki pondasi komputasi yang kompetitif di tingkat regional,” ujar Andreuw.
Andreuw menilai kebutuhan infrastruktur yang siap AI kini sudah menjadi kebutuhan aktual, bukan lagi proyeksi jangka panjang. Karena itu, selain memperluas kapasitas, NeutraDC mengintegrasikan layanan Colo, Connect, dan Compute guna mendukung orkestrasi konektivitas dan komputasi dalam satu sistem terpadu.
Secara operasional, strategi ini diwujudkan melalui integrasi colocation, compute, dan connect dalam satu ekosistem modular yang dirancang adaptif terhadap dinamika teknologi, termasuk pertumbuhan AI, cloud, dan kebutuhan komputasi berkapasitas tinggi. “Dengan integrasi ini, NeutraDC menempatkan diri bukan hanya sebagai penyedia fasilitas fisik, melainkan sebagai penggerak ekosistem digital yang menyatukan infrastruktur, konektivitas, dan layanan komputasi dalam satu kerangka strategis,” katanya.
Penguatan layanan tersebut berjalan seiring ekspansi fasilitas di Jakarta, pembangunan pusat data berskala besar di Batam, serta operasional perusahaan di Singapura. Andreuw menjelaskan, keberadaan di Singapura dinilai strategis karena negara tersebut merupakan salah satu hub interkoneksi dan lalu lintas data terbesar di Asia Pasifik.
Dengan titik operasional di Singapura, NeutraDC disebut dapat menghubungkan ekosistem domestik dengan jaringan global secara lebih efisien, sekaligus menghadirkan opsi arsitektur hybrid dan disaster recovery lintas negara bagi pelanggan di Indonesia.
NeutraDC Singapore juga telah mengantongi lisensi Services-Based Operator (SBO) yang memungkinkan perusahaan melakukan resale layanan konektivitas secara resmi. Lisensi ini sekaligus memperkuat aspek kepatuhan regulasi di tingkat regional dan mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang.
Keberadaan fasilitas di luar negeri menjadikan NeutraDC sebagai operator pusat data asal Indonesia dengan jejak operasional internasional. Model ini disebut membawa implikasi strategis, mulai dari peningkatan keandalan melalui redundansi antarnegara, penguatan konektivitas regional, hingga fleksibilitas pengelolaan beban kerja domestik dan global secara bersamaan.
“Posisi ini memberikan nilai tambah berupa konektivitas regional yang lebih kuat, redundansi lintas negara, serta fleksibilitas arsitektur hybrid. Dengan model tersebut, Indonesia tidak hanya menjadi pasar konsumsi data, tetapi juga bagian dari rantai nilai infrastruktur digital regional,” ujar Andreuw.
Ke depan, NeutraDC menyatakan komitmen untuk melanjutkan pengembangan infrastruktur secara terukur dan proaktif, dengan memperluas jangkauan lintas wilayah serta memperdalam kapabilitas layanan. Perusahaan menilai transformasi dari penyedia fasilitas menjadi penggerak ekosistem penting untuk memperkuat daya saing Indonesia dalam peta infrastruktur digital Asia Pasifik, sekaligus mendukung percepatan transformasi industri dan meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi berbasis teknologi melalui ketersediaan kapasitas hyperscale dan AI-ready di dalam negeri.

