JAKARTA — Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) memperkirakan ekonomi global menunjukkan ketahanan yang lebih baik dari perkiraan pada paruh pertama 2025. Namun, OECD menilai risiko masih membayangi, terutama akibat meningkatnya hambatan perdagangan serta ketidakpastian geopolitik dan kebijakan.
Dalam laporan OECD Interim Economic Outlook, pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan melambat dari 3,3% pada 2024 menjadi 3,2% pada 2025, lalu turun lagi ke 2,9% pada 2026. OECD menyebut perlambatan ini mencerminkan penarikan stok yang sempat menumpuk sebelum tarif diberlakukan, serta berlanjutnya tekanan pada investasi dan perdagangan.
Sekretaris Jenderal OECD Mathias Cormann menyatakan ekonomi global tetap tangguh, tetapi dampak penuh dari tarif yang lebih tinggi dan ketidakpastian kebijakan dinilai belum sepenuhnya terasa. Ia juga menyoroti risiko besar lain, termasuk kekhawatiran terkait stabilitas fiskal dan keuangan, serta menyerukan pemerintah untuk menyelesaikan ketegangan perdagangan demi memastikan perdagangan global yang adil dan berbasis aturan.
OECD turut meminta bank sentral tetap waspada dan menyesuaikan kebijakan sesuai kebutuhan. Lembaga ini juga menekankan pentingnya disiplin fiskal dalam mengelola utang dan tekanan anggaran yang meningkat, termasuk melalui rencana penyesuaian jangka menengah, realokasi belanja, dan optimalisasi pendapatan untuk menstabilkan tingkat utang.
Kepala Ekonom OECD Álvaro Santos Pereira menambahkan reformasi struktural dinilai krusial untuk meningkatkan standar hidup serta memaksimalkan manfaat teknologi, termasuk kecerdasan buatan.
Dari sisi harga, inflasi global diperkirakan menurun seiring perlambatan pertumbuhan dan meredanya tekanan tenaga kerja. Inflasi utama diproyeksikan turun dari 3,4% pada 2025 menjadi 2,9% pada 2026. Sementara itu, inflasi inti di negara maju anggota G20 diperkirakan stabil di 2,6% pada 2025 dan 2,5% pada 2026.
Untuk Indonesia, OECD memperkirakan inflasi sebesar 1,9% pada 2025 dan meningkat menjadi 2,7% pada 2026, yang dipengaruhi oleh depresiasi mata uang pada periode sebelumnya.
OECD juga memproyeksikan pertumbuhan Amerika Serikat melemah menjadi 1,8% pada 2025 dan 1,5% pada 2026. Pelemahan ini dikaitkan dengan dampak tarif, melambatnya imigrasi bersih, serta pemangkasan tenaga kerja federal.
Adapun China diperkirakan tumbuh 4,9% pada 2025 dan melambat ke 4,4% pada 2026, seiring meredanya efek front-loading, mulai berlakunya tarif, dan berkurangnya dukungan fiskal.
Di tengah proyeksi perlambatan global, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 4,9% pada 2025 dan tetap 4,9% pada 2026. OECD menilai proyeksi tersebut didukung oleh rebound investasi yang memberi dorongan jangka pendek.
Sementara itu, pemerintah menargetkan pertumbuhan 5,4% pada tahun ini, setelah ekonomi mencatatkan ekspansi 5,12% pada kuartal kedua.

