Pemerintah menyatakan masih memiliki cadangan fiskal yang cukup besar untuk menghadapi potensi tekanan ekonomi global. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, Saldo Anggaran Lebih (SAL) saat ini berada di kisaran Rp 420 triliun dan dapat dimanfaatkan bila kondisi darurat menuntut.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya kepada awak media di Jakarta, Rabu (1/4/2026), saat menjelaskan kesiapan fiskal nasional di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. Menurutnya, SAL menjadi salah satu instrumen untuk menjaga stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
“Kalau kepepet, saya punya SAL sekarang naik Rp 420 triliun,” ujar Purbaya.
SAL merupakan akumulasi sisa anggaran dari tahun-tahun sebelumnya yang tidak terpakai dan disimpan sebagai cadangan negara. Dana tersebut dapat digunakan sewaktu-waktu untuk menutup kebutuhan mendesak, terutama ketika terjadi tekanan berat terhadap keuangan negara, seperti lonjakan harga energi global atau krisis ekonomi.
Meski demikian, pemerintah menegaskan belum berencana menggunakan SAL untuk menutup tambahan subsidi energi. Pemerintah, menurut Purbaya, masih mengandalkan efisiensi anggaran di berbagai kementerian dan lembaga dengan memangkas belanja yang dinilai kurang prioritas secara bertahap.
Langkah itu disebut sebagai bentuk kehati-hatian dalam pengelolaan keuangan negara. Pemerintah berupaya menjaga defisit anggaran tetap terkendali tanpa menguras cadangan yang tersedia, sehingga SAL tetap dapat berfungsi sebagai bantalan fiskal bila situasi global memburuk.
Dalam perhitungan kasar, SAL Rp 420 triliun dinilai memiliki daya dukung yang signifikan. Jika dibandingkan dengan kebutuhan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diperkirakan mencapai Rp 1,2 triliun per hari, maka besaran SAL tersebut setara dengan sekitar 350 hari pembiayaan program.
Pemerintah menegaskan fokus saat ini tetap pada menjaga keseimbangan fiskal melalui optimalisasi pendapatan negara dan efisiensi belanja. Upaya tersebut juga ditujukan untuk menjaga kepercayaan pasar terhadap kondisi ekonomi Indonesia.
Di tengah ketidakpastian global, seperti fluktuasi harga komoditas dan potensi perlambatan ekonomi dunia, keberadaan SAL dipandang sebagai sinyal bahwa Indonesia masih memiliki ruang fiskal yang memadai. Sejumlah pengamat ekonomi menilai keputusan pemerintah untuk tidak tergesa-gesa menggunakan SAL merupakan langkah yang tepat, dengan catatan cadangan itu digunakan hanya dalam kondisi benar-benar darurat.

