MAGELANG — Ketidakstabilan ekonomi global memicu kekhawatiran terhadap nilai tukar rupiah di tengah gejolak pasar dan arus dana asing yang fluktuatif. Dalam situasi tersebut, masyarakat menimbang instrumen yang paling efektif untuk melindungi nilai aset, mulai dari emas, saham, hingga Surat Utang Negara (SUN).
Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Tidar (Untidar) Magelang, Afif Musthafa, menilai kondisi ekonomi saat ini tidak berada dalam situasi ideal. Ia menyebut ketidakpastian global, isu utang luar negeri Amerika Serikat, serta tensi geopolitik sebagai faktor yang memperlemah stabilitas pasar.
Menurut Afif, pelemahan rupiah tidak semata dipicu sentimen global, tetapi juga dinamika di pasar modal domestik. Salah satunya berkaitan dengan kebijakan indeks global seperti Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang menjadi acuan investor institusi besar dunia.
Ia menjelaskan, ketika dana asing keluar dari pasar saham Indonesia, dampaknya bukan hanya pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat anjlok, tetapi juga terhadap permintaan rupiah. Data yang ia sampaikan menunjukkan sekitar 40 persen kepemilikan di pasar modal domestik berasal dari investor asing. Dengan nilai kapitalisasi pasar yang mencapai ribuan triliun rupiah, arus keluar dana dalam jumlah besar dinilai otomatis menekan nilai tukar.
Dalam kondisi seperti itu, kata Afif, investor global cenderung mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman, termasuk emas. Ia menyebut emas dalam beberapa tahun terakhir mengalami reli harga signifikan hingga mencetak rekor tertinggi (all-time high/ATH), sehingga menjadi pilihan yang banyak dilirik masyarakat awam di tengah ketidakpastian politik dan ekonomi global.
Meski demikian, Afif mengingatkan kenaikan emas tetap memiliki risiko. Harga emas bergerak mengikuti pola teknikal dan dapat mengalami koreksi tajam. Masyarakat yang membeli saat harga berada di puncak tanpa memahami pola pergerakan berpotensi menanggung kerugian dalam jangka pendek.
Selain emas, Afif menilai Surat Berharga Negara (SBN) ritel, termasuk Sukuk Ritel, sebagai instrumen yang relatif paling aman dalam konteks perlindungan nilai. Ia menyebut instrumen ini menawarkan kupon tetap, memiliki jatuh tempo yang jelas, serta berpeluang memberikan capital gain.
Berbeda dengan emas yang mengandalkan kenaikan harga, SBN memberikan imbal hasil rutin. Afif menilai SUN dapat menjadi pilihan yang lebih aman karena adanya kupon dan kepastian jatuh tempo. Dari sisi makro, pembelian obligasi oleh investor asing juga disebut berpotensi menopang rupiah karena meningkatkan permintaan terhadap mata uang domestik.
Namun, Afif menilai literasi dan akses masih menjadi kendala. Ia menyebut transaksi SBN dilakukan melalui rekening dana nasabah (RDN) di perusahaan sekuritas, yang dinilai lebih kompleks dibandingkan perbankan konvensional, sehingga instrumen tersebut belum populer di kalangan masyarakat luas.
Untuk investor dengan profil risiko lebih rendah, Afif menyarankan deposito dan reksa dana pasar uang (RDPU) sebagai alternatif. Ia menyebut deposito menawarkan imbal hasil sekitar 4 persen, sementara surat utang negara dapat mencapai kisaran 6 persen. Reksa dana dinilai relatif stabil karena dikelola manajer investasi dan memiliki diversifikasi aset, meski setiap instrumen tetap memiliki risiko dengan tingkat fluktuasi yang berbeda.
Sementara itu, saham dan kripto dinilai kurang cocok bagi investor pemula dalam situasi ekonomi yang bergejolak. Afif menilai volatilitas tinggi serta sensitivitas terhadap sentimen global membuat instrumen ini membutuhkan pemahaman teknikal dan fundamental yang kuat. Ia juga menyebut kripto memiliki risiko lebih tinggi karena sepenuhnya bergantung pada analisis teknikal tanpa fundamental ekonomi yang jelas.
Afif menekankan perlindungan nilai tidak hanya soal memilih instrumen, tetapi juga memahami karakteristik masing-masing aset dan menyesuaikannya dengan kebutuhan serta literasi keuangan. Ia menyarankan masyarakat memulai dari instrumen yang paling dipahami dan tidak sekadar mengikuti tren.
Ia menambahkan, perlindungan nilai biasanya baru benar-benar dipertimbangkan ketika nilai aset sudah besar. Namun, di tengah ketidakstabilan global saat ini, pemahaman dasar mengenai diversifikasi dinilai relevan bagi semua lapisan masyarakat.

