Penutupan Selat Hormuz oleh Pemerintah Iran memicu gejolak harga minyak mentah dunia yang bergerak dinamis. Selain berdampak pada harga, terhambatnya jalur distribusi juga menimbulkan kepanikan di sejumlah negara yang bergantung pada pasokan minyak mentah dari Timur Tengah.
Indonesia turut terdampak karena berstatus sebagai negara net importir. Ketergantungan terhadap pasokan dari kawasan Timur Tengah, khususnya melalui Selat Hormuz, dinilai masih tinggi seiring keterbatasan produksi minyak dalam negeri.
Direktur Eksekutif Reforminer Institute, Komaidi Notonegoro, menjelaskan kemampuan produksi Indonesia disebut berada di angka maksimal sekitar 600 ribu barel per hari, namun realisasi yang dinikmati hanya sekitar 480 ribu barel per hari. Dengan kondisi tersebut, Indonesia harus menutup kebutuhan melalui impor sekitar 1,2 juta barel per hari.
Menurut Komaidi, impor minyak Indonesia saat ini diperoleh dari Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Serikat, meski porsi dari Amerika Serikat disebut sangat kecil. Ia menambahkan, sebagian besar distribusi pasokan tersebut melewati Selat Hormuz.
Di tengah situasi ini, Indonesia disebut telah menandatangani kesepakatan tarif resiprokal dan perjanjian dagang dengan Amerika Serikat, yang diharapkan dapat menjadi alternatif untuk membantu mengatasi potensi hambatan pasokan BBM akibat ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz.
Komaidi juga mengingatkan pemerintah untuk mengantisipasi skenario terburuk apabila kondisi Selat Hormuz semakin terhambat, baik karena faktor yang disengaja maupun secara natural. Ia menilai hambatan tersebut berisiko mengganggu pasokan, sementara cadangan minyak dalam negeri disebut hanya mampu bertahan sekitar 21 hingga 25 hari.
Sejumlah analis kebijakan energi di dalam negeri, kata Komaidi, telah mengingatkan pemerintah agar menyiapkan strategi keluar (exit strategy) untuk menghadapi kondisi dan skenario terburuk terkait gangguan pasokan minyak global.

