BERITA TERKINI
PKS Kota Bandung Soroti Krisis Sampah dan Stabilitas Ekonomi, Wali Kota Farhan Ingatkan Dampak Gejolak Global

PKS Kota Bandung Soroti Krisis Sampah dan Stabilitas Ekonomi, Wali Kota Farhan Ingatkan Dampak Gejolak Global

DPD Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Bandung menyoroti dua persoalan yang dinilai masih krusial di Kota Bandung, yakni krisis sampah dan stabilitas ekonomi. Isu tersebut mengemuka dalam Forum Group Discussion (FGD) bertajuk Kebandungan yang digelar dalam rangka milad ke-24 DPD PKS Kota Bandung di Aula DPD PKS Kota Bandung, Jalan Brigjen Katamso, Minggu (26/4/2026).

FGD tersebut menghadirkan sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. Forum itu disebut menjadi ruang diskusi untuk merumuskan arah pembangunan kota berbasis kolaborasi lintas sektor.

Ketua DPD PKS Kota Bandung Agus Andi Setyawan menekankan pentingnya menghadirkan nilai-nilai keagamaan dalam pembangunan. Ia mengibaratkan semangat pembangunan seperti kebahagiaan dalam berpuasa.

“Selain dua kebahagiaan bagi orang yang berpuasa, kami ingin menghadirkan kebahagiaan ketiga, yaitu kebahagiaan dalam kehidupan bermasyarakat melalui kebersamaan dan pembangunan Kota Bandung,” kata Agus, Senin (27/4/2026).

Agus juga menyoroti penguatan ketahanan pangan dan lingkungan melalui program seperti Buruan Sae dan Kang Pisman. Menurut dia, ketahanan ekonomi perlu diperkuat lewat pemberdayaan UMKM, termasuk melalui Teras UMKM, serta penguatan keluarga melalui Pos Ekonomi Pemberdayaan Keluarga.

Di sisi lain, PKS menyatakan tetap mendukung Pemerintah Kota Bandung melalui pendekatan kolaboratif. Namun, Agus menegaskan kritik konstruktif akan tetap disampaikan sebagai bagian dari fungsi pengawasan.

“Tujuannya jelas, untuk perbaikan dan kesejahteraan masyarakat melalui kebijakan yang kuat dan berbasis data,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Umum DPD PKS Kota Bandung Susanto Triyogo Adiputro menilai persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah besar. Ia menekankan penanganan sampah tidak cukup hanya mengandalkan aspek teknis.

“Masalah sampah bukan sekadar pengangkutan, tetapi juga perubahan perilaku masyarakat, penguatan sistem dari hulu ke hilir, hingga pemanfaatan teknologi,” kata Susanto.

Ia juga menyebut, berdasarkan persepsi publik, persoalan sampah menempati urutan teratas dengan porsi mencapai 87 persen, disusul kemacetan, pengangguran, dan kebutuhan pokok.

Dalam forum yang sama, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyoroti tantangan global yang dinilai ikut berdampak pada kondisi daerah. Ia mengatakan kondisi ekonomi global saat ini ditandai volatilitas tinggi.

“Tidak ada yang benar-benar pasti. Dinamika geopolitik, termasuk munculnya kekuatan negara-negara middle power, memengaruhi arah ekonomi global,” ujar Farhan.

Farhan juga menyinggung fenomena greenwashing serta perubahan pola intervensi negara besar yang kini semakin terbuka. Menurutnya, situasi tersebut menuntut pemerintah daerah lebih cermat dalam menentukan langkah.

Dalam konteks domestik, Farhan menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga dan distribusi komoditas strategis seperti BBM, minyak goreng, dan beras.

“Kalau distribusi dan harga tidak terkendali, dampaknya langsung dirasakan masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah, dan berpotensi memicu gejolak sosial,” katanya.

Sebagai respons cepat, Farhan mengaku rutin turun langsung ke lapangan setiap Minggu subuh untuk memantau kondisi masyarakat. Ia mengatakan akan mengecek ke pasar dan berkoordinasi dengan Bulog ketika menerima laporan kenaikan harga.

Dalam kesempatan tersebut, Farhan juga menerima cendera mata berupa buku “5 Rumah Perjuangan PKS” yang memuat konsep penguatan keluarga, spiritualitas, politik, kebangsaan, dan kemanusiaan.

Melalui forum itu, para pihak berharap sinergi antara pemerintah dan elemen masyarakat dapat diperkuat untuk menghadapi tantangan global maupun lokal demi mewujudkan Bandung yang tangguh, sejahtera, dan berkelanjutan.