Pulau Komodo kian menjadi pusat perhatian dunia di era digital. Popularitasnya meluas seiring derasnya arus informasi dan konten yang beredar, membuat kawasan ini semakin dikenal publik global.
Namun, sorotan tersebut membawa konsekuensi yang tidak ringan. Lonjakan wisata dan eksploitasi konten dinilai berisiko mengganggu keseimbangan ekosistem serta merusak habitat alami di Pulau Komodo.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran bahwa ketenaran di ruang digital justru dapat berujung pada ancaman nyata di lapangan. Jika tidak dikelola secara bijak, Komodo dikhawatirkan akan lebih sering hadir sebagai objek di layar daripada tetap bertahan hidup di alamnya sendiri sebagai warisan dunia.

