MONACO — TNI Angkatan Laut melalui Pusat Hidro-Oseanografi TNI Angkatan Laut (Pushidrosal) berpartisipasi dalam 4th Session of the IHO Assembly Meeting 2026 yang digelar di Auditorium Rainier III, Monaco, pada 19–23 April 2026. Kehadiran delegasi Indonesia dalam forum International Hydrographic Organization (IHO) disebut sebagai bagian dari upaya memperkuat kedaulatan maritim, sesuai amanah Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali.
Delegasi Indonesia dipimpin Komandan Pushidrosal Laksamana Madya TNI Dr. Budi Purwanto, S.T., M.M., serta didampingi perwakilan Kementerian Luar Negeri RI. Partisipasi Indonesia dalam forum tersebut tidak hanya menghadiri rangkaian pertemuan, tetapi juga menampilkan produk teknologi kelautan hasil pengembangan dalam negeri.
Dalam kesempatan itu, Pushidrosal memamerkan dua inovasi yang dikembangkan melalui kolaborasi dengan akademisi dari Universitas Indonesia (UI) dan Institut Teknologi Bandung (ITB), yakni HidroSDB35 dan Almanak Nautika Indonesia. HidroSDB35 merupakan teknologi pemetaan laut berbasis Satellite-Derived Bathymetry yang ditujukan untuk pemutakhiran data kedalaman perairan Indonesia. Sementara Almanak Nautika Indonesia memuat data navigasi astronomis yang digunakan sebagai panduan bagi keselamatan pelayaran.
Laksamana Madya Budi Purwanto menyatakan, pameran produk tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan kemampuan teknologi nasional. “Produk ini mencerminkan kemandirian teknologi nasional. Hal ini menunjukkan kontribusi nyata Indonesia dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kelautan dunia,” ujar Budi dalam keterangannya di Monaco.
Selain pameran inovasi, delegasi Indonesia juga terlibat dalam sidang pleno Assembly, forum pengambilan keputusan tertinggi di IHO. Pertemuan ini membahas program kerja dan anggaran IHO untuk periode 2027–2029, serta menyusun rencana strategis jangka panjang hingga 2032.
Pushidrosal menyebut partisipasi aktif Indonesia dalam perumusan standar hidrografi internasional dan pemanfaatan informasi hidrospasial terintegrasi sebagai bagian dari implementasi visi Kasal. Upaya tersebut dinilai berkaitan dengan keselamatan navigasi dan penguatan posisi Indonesia dalam menjaga kedaulatan wilayah laut serta pulau-pulau terluar melalui dukungan data hidrografi.
TNI AL menilai keikutsertaan di Monaco menjadi langkah untuk memperkuat peran Indonesia dalam tata kelola maritim global, sekaligus menegaskan pentingnya riset, inovasi, dan kolaborasi dengan kalangan akademik dalam pengembangan teknologi maritim nasional.