BERITA TERKINI
Rakerda IHGMA DIY 2026 Bahas Strategi Industri Hotel Hadapi Tekanan Geopolitik dan Ekonomi Global

Rakerda IHGMA DIY 2026 Bahas Strategi Industri Hotel Hadapi Tekanan Geopolitik dan Ekonomi Global

Industri perhotelan dan hospitality menghadapi tekanan global yang kian kompleks, mulai dari dinamika geopolitik, ketidakpastian ekonomi, hingga perubahan perilaku konsumen pascapandemi. Situasi tersebut menjadi fokus utama Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) DIY 2026 yang digelar di STIPRAM Yogyakarta, Sabtu (4/4/2026).

Mengusung tema “Hospitality Under Pressure: Strategi Bertahan dan Bertumbuh di Era Geopolitik dan Ekonomi Global”, forum ini menjadi ruang diskusi para pelaku industri perhotelan untuk merumuskan langkah adaptif menghadapi tantangan global.

Ketua DPD IHGMA DIY, Iwan Ridwan Munajat, menilai tekanan global tidak dapat dihindari, tetapi dapat dikelola melalui strategi yang tepat. Ia menekankan pentingnya kemampuan pelaku pariwisata membaca perubahan tren dan meresponsnya dengan cepat agar tetap bertahan sekaligus bertumbuh.

Menurut Iwan, tantangan nyata yang dihadapi industri saat ini mencakup kenaikan biaya operasional, gangguan rantai pasok global terutama terkait kebutuhan bahan bakar minyak (BBM), serta penurunan daya beli di sejumlah pasar utama. Kondisi tersebut dinilai berdampak signifikan terhadap kinerja industri perhotelan.

Dalam situasi seperti itu, ia menyoroti peran General Manager (GM) hotel yang dinilai krusial, terutama dalam menganalisis kondisi serta mengambil kebijakan strategis agar operasional tetap berjalan optimal di tengah gejolak global.

Rakerda juga menghadirkan sesi talk show yang merangkum sejumlah strategi kunci untuk industri hospitality. Di antaranya diversifikasi pasar dengan memperluas segmen wisatawan domestik dan regional, serta efisiensi operasional berbasis teknologi melalui digitalisasi layanan dan pemanfaatan sistem manajemen berbasis data.

Selain itu, penguatan merek dan pengalaman pelanggan dipandang penting untuk menciptakan diferensiasi layanan. Penerapan prinsip keberlanjutan (sustainability) juga dinilai menjadi nilai tambah yang semakin diperhitungkan konsumen modern. Strategi lain yang disorot mencakup manajemen risiko dan keuangan yang adaptif, termasuk pengelolaan arus kas secara disiplin serta kesiapan menghadapi fluktuasi ekonomi global melalui perencanaan yang matang.

Kolaborasi pentahelix antara pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan komunitas turut ditekankan sebagai kunci membangun ekosistem pariwisata yang kuat dan berkelanjutan. Ketua Umum DPP IHGMA, I Gede Arya Pering Arimbawa, menilai sinergi lintas sektor diperlukan untuk merespons tantangan global, termasuk eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang berpotensi berdampak.

Ia menambahkan, pariwisata Indonesia disebut telah menunjukkan ketahanan pascapandemi Covid-19 dan masih memiliki peluang berkembang melalui inovasi serta efisiensi.

Rakerda dan talk show tersebut dihadiri puluhan GM hotel di DIY, perwakilan pemerintah, institusi pendidikan, asosiasi pariwisata, serta jajaran pengurus pusat IHGMA. Dalam kesempatan yang sama, Ketua DPD Perhimpunan Hotel Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo Eryono, mengingatkan para pemangku kepentingan untuk memberi perhatian pada situasi di Timur Tengah yang berdampak pada berbagai sektor dunia, termasuk Indonesia dan DIY. Ia menilai upaya penghematan BBM akibat konflik yang memengaruhi lalu lintas minyak dunia dapat berimbas pada sektor pariwisata di dalam negeri.