Riham El-Gizy menjadi salah satu tokoh perempuan yang menonjol di kawasan Timur Tengah dan Afrika setelah memimpin Voluntary Carbon Market, perusahaan berbasis di Arab Saudi yang disebut sebagai yang pertama di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara.
Dalam 18 bulan pertama sejak perusahaan berdiri, El-Gizy memimpin lelang pasar karbon sukarela terbesar di dunia yang digelar di Riyadh pada 2022. Perusahaan kemudian mencetak rekor baru dalam lelang kedua yang berlangsung di Nairobi, Kenya, pada 2023.
Pada 2024, El-Gizy melanjutkan perannya dengan memimpin pengembangan bursa karbon pertama di Arab Saudi yang diluncurkan pada tahun tersebut. Di sisi lain, ia juga tercatat masuk dalam daftar 100 Orang Afrika Paling Berpengaruh 2023 versi Afrika Baru.
Melalui kepemimpinannya, El-Gizy mendorong upaya mempertemukan individu dan organisasi dari berbagai sisi ekosistem pasar karbon sukarela. Langkah ini disebut bertujuan membantu membentuk arah industri seiring pertumbuhannya dan perannya dalam upaya menghadapi perubahan iklim.
Perusahaan yang dipimpinnya juga menjadi tuan rumah Konferensi Pasar Karbon Selatan Global pertama yang digelar di Future Investment Initiative Institute, Riyadh, pada tahun lalu. El-Gizy turut berkontribusi dalam sejumlah konferensi internasional lainnya, termasuk KTT Iklim Afrika dan COP (Konferensi Para Pihak).
El-Gizy memiliki pengalaman internasional lebih dari 20 tahun, dengan fokus pada dampak investasi melalui peran kepemimpinan dalam merger dan akuisisi, serta strategi dan pengembangan bisnis. Ia pernah menjabat sebagai kepala penilaian dan penataan investasi di Saudi Aramco, yang bertugas memberi nasihat dan merumuskan keputusan investasi bagi manajemen perusahaan, eksekutif, serta lembaga pemerintah.
Sebelum bergabung dengan Saudi Aramco, El-Gizy menghabiskan 16 tahun bersama BP di Amerika Utara dan Afrika Utara. Ia juga memiliki rekam jejak dalam memulai dan menjalankan transaksi di bidang energi, teknologi ramah lingkungan, serta energi terbarukan di berbagai negara.
El-Gizy meraih gelar Master of Business Administration dari Massachusetts Institute of Technology (MIT). Saat menempuh pendidikan di universitas tersebut, ia terlibat dalam proyek-proyek yang mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di pasar negara berkembang melalui penerapan solusi teknologi inovatif dan simulasi perubahan iklim.

