Nilai tukar rupiah menguat pada perdagangan Jumat (24/4/2026) sore. Pada pukul 15.39 WIB, rupiah tercatat menguat 0,33% ke level Rp 17.228 per dolar AS, membaik dibandingkan posisi Kamis (23/4/2026) yang sempat menembus Rp 17.300 per dolar AS.
Dalam taklimat media di Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat (24/4/2026), Purbaya menyampaikan bahwa pergerakan rupiah dipengaruhi kondisi global dan ekspektasi. Ia menekankan pentingnya pengendalian ekspektasi, meski menyebut hal itu bukan menjadi kewenangannya.
Purbaya juga membantah anggapan bahwa sentimen negatif terhadap rupiah muncul akibat memburuknya kondisi ekonomi domestik. Ia menilai perekonomian Indonesia lebih kuat dibandingkan sejumlah negara lain di kawasan, seperti Malaysia dan Thailand. Menurutnya, fondasi ekonomi Indonesia tidak berubah dan bahkan diyakini akan semakin cepat seiring upaya perbaikan berbagai kendala di perekonomian.
Ia mengungkapkan sempat muncul tudingan bahwa Indonesia sengaja melemahkan rupiah melalui kebijakan beggar-thy-neighbour, yakni strategi yang membuat negara mitra dagang sulit bersaing dari sisi biaya. Purbaya mengatakan Malaysia dan Singapura sempat menyampaikan komplain terkait hal tersebut. Namun, ia menilai kondisi yang terjadi lebih disebabkan oleh ekspektasi negatif.
Seiring nilai tukar yang berada di atas asumsi makro APBN 2026, Purbaya menyatakan pemerintah belum berencana mengajukan APBN-Perubahan (APBN-P). Menurutnya, perhitungan fiskal telah disimulasikan, termasuk skenario terburuk, dan defisit dinilai masih dalam batas yang telah diperhitungkan.
“Tentang APBN-P, belum. Kan itungannya masih masuk semuanya. Simulasinya, masih. Yang disimulasikan sudah worst case scenario. Defisitnya nggak terlalu tinggi, masih segitu,” kata Purbaya.
Ia menambahkan, hingga saat ini belum ada peristiwa yang cukup kuat untuk memicu perlunya APBN-P. “Jadi masih aman,” ujarnya.