Teater Dza 'Izza melalui pementasan berjudul Ayahku Pulang (2019) mengangkat kisah kehidupan sebuah keluarga yang diliputi persoalan ekonomi dan konflik batin, berlatar malam Lebaran di dalam rumah. Di tengah suasana yang semestinya hangat, keluarga itu justru merasakan kekosongan karena tidak hadirnya sosok ayah.
Cerita berpusat pada seorang ibu yang bekerja di mesin jahit bersama anak-anaknya, Narto (Gunarto), Mintarsih, dan Maimun. Sang ayah, Saleh, disebut sebagai hartawan yang sangat sibuk sehingga membatasi waktu bersama keluarga. Situasi keluarga kian rumit karena Saleh telah bercerai dari ibu sejak anak-anak masih kecil, membuat kehadiran ayah terasa jauh dalam kehidupan mereka.
Dalam dialog-dialog yang berlangsung, ibu dan Narto digambarkan kerap kebingungan memikirkan biaya hidup sehari-hari. Mereka juga memusingkan kebutuhan biaya pernikahan Mintarsih, adik perempuan Narto. Di sisi lain, ibu meminta Narto segera menikah karena usianya dianggap sudah cukup, namun Narto memilih menunda dan menyatakan baru akan menikah dalam 10 tahun ke depan.
Meski diliputi berbagai persoalan, keluarga ini tetap menunggu kepulangan Saleh. Ketika akhirnya sang ayah pulang pada saat mereka berkumpul, situasi berbalik: Saleh datang dalam keadaan jatuh miskin setelah usahanya habis terbakar.
Kepulangan itu memicu ledakan emosi Narto. Ia marah dan kesal karena merasa selama ini tidak memiliki ayah dan telah ditelantarkan. Bagi Narto, kepulangan Saleh ketika anak-anak sudah dewasa dianggap datang tanpa rasa malu. Narto pun menolak mengakui dan merawat ayah kandungnya yang telah meninggalkan mereka.
Secara struktural, pementasan ini bertema kehidupan dengan tokoh utama Ibu, Gunarto (Narto), Maimun, Mintarsih, dan Ayah Saleh. Latar cerita berada di dalam rumah pada malam hari, menggunakan alur campuran, dan membangun suasana menyedihkan sepanjang kisah.

