Sejumlah isu ekonomi global pada 28 April 2026 menyoroti keterkaitan antara keamanan energi, transisi menuju sumber daya bersih, kebijakan moneter, serta tekanan regulasi terhadap perusahaan teknologi. Dari Asia hingga Eropa dan Amerika Serikat, perkembangan terbaru menunjukkan bagaimana gejolak geopolitik dan perubahan kebijakan memengaruhi investasi, inflasi, hingga industri penerbangan.
Vietnam dorong daya saing lewat keamanan energi
Vietnam menempatkan keamanan energi sebagai salah satu kunci untuk memperkuat keamanan ekonomi dan daya saing jangka panjang. Hal ini ditegaskan melalui Resolusi No. 70-NQ/TW tentang penjaminan keamanan energi nasional hingga 2030 dengan visi hingga 2045.
Para ahli dari M&G Investments menilai, sistem energi yang stabil dan berkualitas tinggi serta selaras dengan standar ESG global menjadi prasyarat penting untuk menarik investasi asing langsung (FDI) jangka panjang, terutama untuk sektor teknologi tinggi seperti semikonduktor dan pusat data. Dengan potensi besar pada tenaga angin dan surya, serta peta jalan pengurangan ketergantungan pada batu bara secara bertahap, Vietnam dipandang semakin menarik sebagai tujuan investasi energi bersih di Asia Tenggara.
China: kapasitas tenaga surya diproyeksikan melampaui batu bara pada 2026
Perusahaan Jaringan Listrik Nasional China memperkirakan kapasitas tenaga surya negara tersebut akan melampaui kapasitas tenaga batubara untuk pertama kalinya pada 2026. Proyeksi ini dipandang sebagai tonggak penting dalam transisi energi hijau.
Hingga akhir Maret 2026, kapasitas dari sumber non-bahan bakar fosil mencapai 2,46 miliar kW atau sekitar 62% dari total kapasitas terpasang. Tenaga angin dan surya juga menyumbang 68,2% dari total kapasitas pembangkit listrik yang baru ditambahkan.
Uni Eropa minta Google membuka Android untuk pesaing layanan AI
Di Eropa, Komisi Eropa menuntut Google membuka sistem operasi Android bagi layanan kecerdasan buatan (AI) pesaing. Langkah ini dikaitkan dengan upaya peningkatan persaingan sesuai Undang-Undang Pasar Digital (Digital Markets Act/DMA).
Google memperingatkan bahwa tuntutan tersebut dapat memicu biaya yang tidak perlu dan berpotensi melemahkan perlindungan privasi pengguna. Uni Eropa menyatakan perusahaan dapat dikenai denda hingga 10% dari total pendapatan global apabila tidak memenuhi ketentuan yang diminta.
Bank Sentral Jepang tahan suku bunga di tengah risiko geopolitik
Bank Sentral Jepang (BoJ) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di 0,75% dalam pertemuan 28 April. Kebijakan ini mencerminkan kehati-hatian terhadap risiko yang berasal dari konflik Timur Tengah dan kenaikan harga energi.
Dalam laporan prospeknya, BoJ menaikkan perkiraan inflasi inti untuk tahun fiskal berjalan menjadi 2,8%. Namun, bank sentral juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi menjadi 0,5% dengan alasan dampak negatif dari dinamika pasar minyak mentah global.
Maskapai berbiaya rendah memangkas penerbangan akibat lonjakan biaya bahan bakar
Lonjakan harga bahan bakar penerbangan setelah penutupan Selat Hormuz menekan maskapai berbiaya rendah. Ryanair, Transavia, dan Volotea dilaporkan mengalami kerugian besar dan memangkas ribuan penerbangan.
AirAsia X Malaysia menaikkan tarif hingga 40%, sementara Lufthansa membatalkan 20.000 penerbangan. Para ahli memperingatkan tekanan dapat memburuk bagi maskapai yang kesulitan menyerap kenaikan biaya, mengingat model bisnis berbiaya rendah sangat sensitif terhadap perubahan harga bahan bakar.
Ketegangan AS-Iran menambah tekanan pada kebijakan moneter The Fed
Di Amerika Serikat, Federal Reserve diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,5–3,75% dalam pertemuan pekan ini, di tengah ketegangan AS-Iran yang berlanjut dan gangguan pada rantai pasokan.
Harga minyak mentah Brent dilaporkan naik sekitar 50% sejak konflik dimulai. Kenaikan ini mendorong inflasi AS lebih dari 1 poin persentase di atas target 2% dan memperkuat kekhawatiran terhadap kondisi pasar tenaga kerja yang melemah.