BERITA TERKINI
Strategi Pasar: Yuan Diperkirakan Menguat ke 6,8 per Dolar pada Kuartal II, Menantang Pola Musiman

Strategi Pasar: Yuan Diperkirakan Menguat ke 6,8 per Dolar pada Kuartal II, Menantang Pola Musiman

Mata uang China, yuan, kian dipandang sebagai salah satu yang relatif unggul di Asia. Sejumlah strategis memperkirakan yuan berpotensi menguat menuju kisaran 6,8 per dolar AS pada kuartal II, meski periode ini biasanya diwarnai tekanan musiman.

Perkiraan tersebut muncul setelah People’s Bank of China (PBOC) menetapkan nilai tengah (reference rate) USD/CNY di 6,8854, level terkuat bagi yuan dalam hampir tiga tahun. Sejumlah analis menilai penguatan yuan saat ini lebih ditopang oleh fundamental dan arus transaksi ketimbang faktor musiman.

Analis TD Securities dan Credit Agricole CIB memproyeksikan yuan menguat ke sekitar 6,8 per dolar pada kuartal II. Mereka menilai perbaikan kondisi domestik serta ketahanan terhadap guncangan eksternal—termasuk volatilitas yang terkait konflik Iran—mendukung prospek penguatan mata uang tersebut.

Proyeksi ini menantang pola yang lazim terjadi. Secara historis, yuan cenderung melemah pada kuartal II seiring meningkatnya perjalanan wisata ke luar negeri dan bertambahnya kebutuhan valuta asing terkait pembayaran dividen. Namun, para strategis menilai latar tahun ini berbeda karena arus dasar yang lebih kuat dinilai mampu mengimbangi tekanan tersebut.

Sepanjang kuartal I, yuan tercatat menguat sekitar 3% secara relatif dibandingkan mata uang sejenis. Kinerja ini dikaitkan dengan dinamika perdagangan yang solid dan surplus transaksi berjalan yang melebar, di tengah ekspor yang tetap bertahan meski ketidakpastian global berlanjut.

Sejumlah strategis—termasuk Eddie Cheung dari Credit Agricole, Wee Khoon Chong dari BNY, dan Alex Loo dari TD Securities—menyoroti beberapa penopang struktural. Di antaranya adalah cadangan devisa China yang besar, akumulasi surplus eksternal yang berlanjut, serta paparan yang relatif terbatas terhadap guncangan harga energi dibandingkan sejumlah ekonomi lain.

Selain itu, yuan dinilai masih berada pada level undervalued berdasarkan berbagai metrik, sehingga dinilai memiliki ruang untuk menguat ketika investor global meninjau kembali posisi mereka di mata uang pasar berkembang.

Di tengah lingkungan geopolitik yang menambah volatilitas pasar, termasuk melalui kanal energi akibat konflik Iran, China dinilai memiliki faktor peredam berupa cadangan yang signifikan dan arus modal yang lebih terkendali. Dalam konteks ini, yuan semakin dipandang sebagai tempat berlindung relatif (safe-haven) di kawasan.

Secara keseluruhan, pandangan tersebut mengarah pada kemungkinan perubahan perilaku yuan yang biasanya melemah secara musiman. Kombinasi neraca eksternal yang kuat, stabilitas kebijakan, serta ketahanan relatif terhadap guncangan global dinilai dapat menopang penguatan yuan hingga kuartal II.