Meningkatnya serangan siber di tengah percepatan transformasi digital membuat banyak perusahaan kian serius mempertimbangkan pembangunan Security Operations Center (SOC) sebagai fondasi keamanan digital. Fokus pembahasan pun bergeser: bukan lagi sekadar perlu atau tidak, melainkan berapa biaya yang harus disiapkan, berapa lama prosesnya, dan tantangan apa yang paling besar.
Studi terbaru dari Kaspersky memotret gambaran biaya, durasi implementasi, serta hambatan yang dihadapi organisasi di kawasan Asia Pasifik (APAC) ketika membangun SOC. Hasilnya menunjukkan adanya perbedaan antara ekspektasi perencanaan dan realitas pelaksanaan di lapangan.
Secara global, rata-rata anggaran yang disiapkan perusahaan untuk membangun SOC mencapai sekitar USD 2 juta. Namun di Asia Pasifik, mayoritas organisasi merencanakan anggaran di bawah USD 1 juta. Di Indonesia, lebih dari 90% perusahaan yang disurvei termasuk dalam kelompok dengan rencana anggaran di bawah USD 1 juta.
Meski demikian, studi tersebut juga mencatat adanya organisasi besar yang mengalokasikan dana hingga USD 3,5 juta atau lebih, bergantung pada kompleksitas infrastruktur serta tingkat kebutuhan keamanan yang harus dipenuhi.
Sejumlah komponen utama yang umum membentuk biaya implementasi SOC meliputi pengadaan perangkat keras dan lisensi perangkat lunak, implementasi sistem SIEM (Security Information and Event Management), integrasi EDR dan XDR, pembangunan infrastruktur pemantauan 24/7, serta gaji dan pelatihan tim keamanan siber.
Selain investasi awal, biaya operasional jangka panjang disebut kerap terlewat dalam perencanaan. Setelah SOC berjalan, pengeluaran terbesar umumnya berasal dari sumber daya manusia, khususnya untuk peran analis keamanan, incident responder, dan threat hunter.
Dari sisi waktu, banyak perusahaan menargetkan pembangunan SOC selesai dalam 6–12 bulan. Di kawasan Asia Pasifik, hampir 70% organisasi memiliki ekspektasi durasi tersebut. Namun sekitar seperempat perusahaan memperkirakan proses implementasi dapat memakan waktu hingga dua tahun.
Perusahaan besar cenderung menerapkan strategi bertahap, dimulai dari sistem yang paling kritis terlebih dahulu, lalu memperluas cakupan secara perlahan ke seluruh infrastruktur TI. Pendekatan ini dinilai lebih realistis dibandingkan membangun seluruh kemampuan SOC sekaligus dalam satu tahap.
Studi Kaspersky juga menyoroti bahwa membangun SOC bukan semata persoalan teknologi, melainkan juga menyangkut manajemen, proses, dan kesiapan sumber daya manusia. Sejumlah hambatan utama yang dihadapi organisasi di APAC mencakup kesulitan membuktikan efektivitas SOC, termasuk kebutuhan menunjukkan ROI (Return on Investment) serta indikator operasional seperti Mean Time to Detect (MTTD) dan Mean Time to Response (MTTR).
Hambatan lain adalah biaya modal awal yang tinggi, terutama bagi perusahaan menengah. Selain itu, integrasi berbagai sistem keamanan agar dapat bekerja selaras sering menjadi tantangan tersendiri. Di sisi SDM, kekurangan talenta keamanan siber masih menjadi persoalan serius, baik karena keterbatasan tenaga ahli internal maupun minimnya ketersediaan talenta di pasar tenaga kerja regional.
Kompleksitas operasional juga menjadi perhatian. Tanpa rencana aksi yang jelas dan arsitektur keamanan yang terintegrasi, SOC berisiko berubah menjadi pusat biaya tanpa nilai strategis yang sepadan.
Untuk meningkatkan peluang keberhasilan, studi tersebut menekankan pentingnya pendekatan yang disiplin dan terstruktur. Beberapa langkah yang disarankan antara lain menyusun roadmap dan tujuan strategis sejak awal, mengintegrasikan solusi SIEM berbasis AI, memanfaatkan threat intelligence untuk meningkatkan visibilitas ancaman, menggunakan layanan Managed Detection and Response (MDR) bila kekurangan tenaga ahli, serta menetapkan KPI yang jelas untuk evaluasi performa.
Dengan perencanaan yang matang, SOC diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai pusat pemantauan keamanan, tetapi juga menjadi bagian penting dalam penguatan ketahanan digital organisasi.

