Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) akan kehilangan salah satu anggotanya setelah Uni Emirat Arab (UAE) memutuskan keluar dari organisasi tersebut mulai 1 Mei 2026. Langkah ini segera memicu perhatian pasar karena berpotensi mengubah dinamika pengendalian pasokan minyak dunia yang selama ini banyak dipengaruhi kebijakan kuota produksi OPEC.
Keputusan UAE datang di tengah situasi geopolitik Timur Tengah dan gangguan distribusi energi global. Kondisi ini membuat reaksi pasar tidak semata dipicu faktor ekonomi, tetapi juga kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan dan arah harga minyak ke depan.
Produsen besar dengan ruang ekspansi produksi
UAE merupakan salah satu produsen minyak terbesar di OPEC dengan produksi sekitar 3 juta barel per hari. Kapasitas maksimal negara tersebut disebut berada di kisaran 4,5 hingga 4,85 juta barel per hari. Selama menjadi anggota OPEC, produksi UAE dibatasi oleh kuota. Dengan keluarnya UAE, negara itu memiliki keleluasaan untuk meningkatkan produksi, termasuk untuk memperluas pangsa pasar, memaksimalkan pendapatan energi, dan mempercepat investasi di sektor migas.
Pada saat yang sama, harga minyak dunia berada di level tinggi. Minyak jenis Brent tercatat menyentuh sekitar US$111 per barel, didorong konflik kawasan dan gangguan jalur distribusi seperti Selat Hormuz yang disebut mengalirkan hampir 20% pasokan minyak global.
Retaknya soliditas OPEC dan konflik kepentingan
Keluarnya UAE menyoroti ketegangan yang kerap muncul di internal OPEC: perbedaan antara kepentingan kolektif menjaga harga melalui pembatasan produksi dan ambisi nasional untuk meningkatkan output. Sistem kuota dinilai tidak selalu menguntungkan semua anggota secara merata, sementara dominasi negara besar seperti Arab Saudi dalam menentukan kebijakan OPEC juga disebut memicu ketegangan.
Dengan keluarnya UAE, soliditas kartel minyak tersebut dinilai menghadapi tantangan yang lebih besar, terutama bila perbedaan kepentingan antaranggota terus melebar.
Risiko perang harga: jangka panjang vs jangka pendek
Pertanyaan yang muncul berikutnya adalah apakah langkah UAE dapat memicu perang harga minyak. Secara teori, ketika produsen besar dapat menentukan output tanpa koordinasi, pasar berpotensi mengalami lonjakan produksi (oversupply), persaingan harga antarnegara, dan volatilitas yang ekstrem.
UAE diperkirakan dapat menambah produksi hingga 1–1,5 juta barel per hari dalam beberapa tahun ke depan. Jika langkah serupa diikuti negara lain, skenario perang harga seperti yang terjadi pada 2020 berpeluang terulang. Namun dalam jangka pendek, harga minyak masih cenderung tinggi karena ketegangan kawasan, termasuk konflik Iran, serta gangguan distribusi energi global. Artinya, dalam waktu dekat harga dapat bertahan tinggi, sementara dalam jangka panjang risiko penurunan harga akibat oversupply bisa meningkat.
Dampak ke Indonesia: BBM, inflasi, hingga nilai tukar
Indonesia sebagai negara pengimpor minyak berpotensi merasakan dampak dari perubahan peta pasokan dan harga minyak global. Ketika harga minyak meningkat, beban subsidi energi dapat bertambah, tekanan terhadap APBN menguat, dan risiko kenaikan harga barang ikut meningkat.
Kenaikan harga energi juga dapat mendorong biaya logistik dan transportasi, yang pada akhirnya berdampak pada harga kebutuhan pokok. Selain itu, kebutuhan impor energi yang lebih mahal berpotensi menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Menuju pasar energi yang lebih bebas namun tidak stabil
Selama puluhan tahun, OPEC berperan sebagai penyeimbang pasar minyak global. Namun dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah negara keluar dari organisasi, kepatuhan terhadap kuota disebut melemah, dan faktor geopolitik semakin dominan. Perkembangan ini mengarah pada fase pasar energi yang lebih bebas, tetapi dinilai berisiko lebih tidak stabil.
Keputusan UAE keluar dari OPEC menjadi sinyal perubahan besar dalam tata kelola pasokan minyak dunia. Di satu sisi, volatilitas dan risiko inflasi dapat meningkat. Di sisi lain, perubahan ini membuka peluang bagi negara dan pelaku usaha yang mampu beradaptasi dengan cepat terhadap dinamika energi global.