United Nations Conference on Trade and Development (UNCTAD) mencatat gangguan di Selat Hormuz mulai menekan negara berkembang melalui pelemahan mata uang, kenaikan biaya utang, serta penurunan pasar saham global di tengah lonjakan harga energi.
Dalam laporan terbarunya, UNCTAD menyebut eskalasi konflik di Timur Tengah memicu tekanan yang terjadi secara bersamaan pada sektor keuangan dan perekonomian negara berkembang.
Di pasar keuangan, harga saham global dilaporkan turun tajam sejak eskalasi militer pada akhir Februari 2026. Penurunan ini turut terlihat pada indeks MSCI Emerging Markets yang melemah signifikan.
Tekanan juga terjadi pada nilai tukar. Mata uang negara berkembang tercatat terdepresiasi terhadap dolar AS pada periode 27 Februari hingga 26 Maret 2026. Di kawasan Afrika, nilai tukar melemah hingga 2,9%, sementara Amerika Latin dan Karibia turun 2,3%. Di Asia berkembang dan Oseania, depresiasi tercatat sekitar 1%.
Selain pelemahan mata uang, biaya pinjaman eksternal negara berkembang ikut meningkat. UNCTAD mencatat yield obligasi pemerintah di Afrika naik menjadi 8,31% atau bertambah 0,64 poin persentase sejak eskalasi konflik. Di Amerika Latin dan Karibia, yield naik menjadi 6,19% atau meningkat 0,36 poin, sedangkan Asia berkembang dan Oseania naik menjadi 5,66% atau bertambah 0,70 poin.
UNCTAD mengaitkan kondisi tersebut dengan lonjakan harga energi global. Harga minyak dilaporkan melonjak tajam sejak akhir Februari 2026, yang berkontribusi terhadap meningkatnya tekanan inflasi dan biaya hidup, terutama di negara berkembang.
Gangguan perdagangan disebut menjadi faktor utama tekanan tersebut. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz turun hingga 95%, dari rata-rata 129 kapal per hari pada Februari menjadi 6 kapal per hari pada Maret 2026.
Sebagai jalur utama perdagangan energi global, gangguan di Selat Hormuz berdampak langsung pada distribusi minyak dan gas dunia yang menjadi basis aktivitas ekonomi global.
UNCTAD memperkirakan pertumbuhan perdagangan global akan melambat pada 2026, dengan tren pertumbuhan yang terbatas dibandingkan periode sebelumnya. Secara makro, pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan hanya sekitar 2,6% pada 2026, sementara negara berkembang berada di kisaran 4,1%.
Dari sisi fiskal, UNCTAD juga menyoroti beban utang yang kian berat. Sekitar 3,4 miliar orang di 46 negara berkembang tercatat hidup di negara yang pengeluaran untuk pembayaran utang melebihi belanja kesehatan atau pendidikan.

