Penguasaan bahasa dan pemahaman budaya asing dinilai semakin penting bagi perguruan tinggi dalam memperkuat diplomasi sains. Kompetensi ini membantu komunikasi ilmiah lintas negara, memperluas jejaring riset, serta membangun kepercayaan antarmitra akademik.
Bahasa memungkinkan peneliti mengakses literatur global, mempublikasikan temuan, dan berpartisipasi dalam forum ilmiah internasional. Sementara itu, pemahaman budaya membantu akademisi membaca norma, etika kolaborasi, serta sensitivitas sosial yang kerap menentukan kelancaran kerja sama riset.
Kombinasi kompetensi linguistik dan kultural juga dipandang sebagai modal strategis universitas untuk membangun kolaborasi internasional, menarik pendanaan riset, serta mempromosikan kepentingan nasional melalui pertukaran pengetahuan dan inovasi ilmiah.
Dalam konteks tersebut, Universitas Hasanuddin (Unhas) menegaskan komitmennya memperkuat posisi di tingkat global melalui program pengembangan kapasitas kepemimpinan berbasis literasi internasional. Bertempat di Kampus Tamalanrea, Unhas menggelar kelas perdana Bahasa Arab pada Jumat (13/3/2026).
Kelas perdana ini diikuti jajaran pimpinan universitas, mulai dari Rektor Unhas, Ketua Senat Akademik, para Wakil Rektor, hingga para Dekan. Kehadiran unsur pimpinan tersebut disebut mencerminkan dukungan institusional terhadap agenda internasionalisasi yang lebih substantif.
Program dipandu Prof. Dr. Yusring Sanusi Baso, M.App. Ling., pakar linguistik terapan Unhas. Ia menjelaskan pembelajaran dirancang tidak sebatas pengenalan tata bahasa, melainkan membahas keterkaitan aspek kebahasaan dengan konteks sosiokultural serta protokol profesional di kawasan Timur Tengah.
“Pendekatan ini bertujuan membekali para pimpinan dengan cultural capital (modal budaya) yang krusial dalam menavigasi kolaborasi riset dan pendidikan di level transnasional,” kata Prof. Yusrin.
Pada kesempatan yang sama, Rektor Unhas Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc., menegaskan inisiatif ini tidak dimaksudkan sebagai kegiatan seremonial. Menurutnya, program tersebut merupakan instrumen strategis untuk mengurangi hambatan komunikasi dalam membangun kemitraan global.
“Inisiasi ini merupakan bentuk intellectual refreshing sekaligus jembatan strategis bagi jajaran pimpinan untuk membangun kemitraan yang lebih inklusif di Timur Tengah. Dengan menguasai instrumen bahasa dan memahami dinamika budaya secara komprehensif, kita sedang meletakkan fondasi bagi diplomasi akademik yang lebih setara dan berkelanjutan di masa depan,” ujar Jamaluddin Jompa.
Ia juga menekankan pentingnya keberlanjutan program agar dapat menjadi agenda rutin institusional. Dengan memperkecil kesenjangan literasi lintas budaya, Unhas menyatakan optimistis dapat memperkuat jejaring kemitraan yang lebih autentik dan berbasis pemahaman bersama, sejalan dengan visi menjadi World Class University.

