BERITA TERKINI
AI Berbiaya Rendah dari China Menekan Dominasi AS dan Mengubah Peta Persaingan Global

AI Berbiaya Rendah dari China Menekan Dominasi AS dan Mengubah Peta Persaingan Global

Persaingan kecerdasan buatan (AI) global kian menampilkan dua gambaran yang bertolak belakang. Di Amerika Serikat, Anthropic—pengembang chatbot Claude—menuduh tiga laboratorium di Tiongkok membuat ribuan akun palsu untuk mencuri kekayaan intelektual dari sistem mereka. Pada saat yang sama, ByteDance meluncurkan Seedance 2.0, alat pembuat video dari teks yang diklaim mampu menghasilkan kualitas setara film dengan biaya sangat rendah.

Di luar sengketa hak cipta, dinamika ini dibaca sebagai pertarungan model bisnis. Jika AS dikenal dengan pengembangan AI perintis, chip paling canggih, dan investasi bernilai besar, Tiongkok menempuh jalur berbeda: menurunkan biaya dan mendorong penerapan AI secara luas, termasuk untuk pasar internasional. Strategi tersebut berpotensi mengubah AI dari layanan berharga mahal menjadi komoditas yang mudah diakses.

Salah satu pendorong utama biaya rendah adalah teknik yang dikenal sebagai “distilasi”. Alih-alih membangun model besar dari nol dengan ongkos pelatihan dan operasional yang tinggi, pengembang membuat model yang lebih ringkas untuk mempelajari keluaran sistem yang lebih canggih, lalu merangkum pengetahuan itu ke versi yang lebih ringan. Model yang disederhanakan ini tidak memerlukan susunan chip termahal dan dapat ditawarkan dengan harga lebih terjangkau bagi bisnis maupun konsumen.

Anil Agarwal, CEO InCruiter, menilai distilasi dalam skala industri telah menjadi pengungkit persaingan, bukan lagi sekadar eksperimen akademis. Menurutnya, pelatihan model dari awal sangat mahal, sementara distilasi membantu menekan beban tersebut—sejalan dengan prinsip bahwa kemampuan memperluas penggunaan (skalabilitas) sering kali lebih menentukan daripada sekadar keunggulan teknis.

Pola ini mengingatkan pada strategi yang sebelumnya terlihat di sektor telekomunikasi dan pembayaran digital: ekspansi dengan solusi yang jauh lebih murah dibanding pesaing Barat, sehingga membangun ketergantungan teknologi jangka panjang. Model-model berbiaya rendah ini mungkin tidak ditujukan untuk persoalan paling kompleks, tetapi dinilai cocok untuk kebutuhan komersial, logistik, dan administrasi yang dijalankan jutaan bisnis setiap hari.

Perubahan arah Tiongkok ini juga menyoroti tantangan bagi model investasi raksasa teknologi AS. CNBC melaporkan empat perusahaan besar—Amazon, Microsoft, Meta, dan Alphabet—menyusun rencana belanja hingga 700 miliar dolar AS untuk infrastruktur AI dalam satu tahun. Besarnya pengeluaran tersebut memicu kembali pertanyaan Wall Street tentang pengembalian investasi (ROI), di tengah kekhawatiran profitabilitas yang belum sepenuhnya terjawab.

Karim Moussalem, Kepala Investasi Selwood Asset Management, menyatakan pasar mulai meragukan apa yang ia sebut sebagai “keistimewaan Amerika”. Menurutnya, modal yang digelontorkan ke perlombaan AI telah melampaui perkiraan sebelumnya, sementara pertanyaan tentang seberapa cepat dan seberapa besar keuntungan yang bisa dihasilkan semakin menguat.

Di sisi lain, pendekatan Tiongkok menitikberatkan penerapan masif dan pengumpulan data dari jutaan pengguna untuk mempercepat penyempurnaan. Siklus umpan balik dalam skala besar ini dinilai menciptakan momentum yang kuat. Rory Green, kepala ekonom untuk China di TS Lombard, memperingatkan bahwa “guncangan teknologi” dari ekonomi terbesar di dunia baru saja dimulai dan dapat mengancam dominasi AI AS.

Green juga menggambarkan skenario bahwa dalam 5–10 tahun ke depan, banyak negara berkembang dapat condong ke ekosistem berbiaya rendah dari Tiongkok—mulai dari 5G dan baterai energi hingga AI—ketimbang solusi yang lebih mahal dari AS dan Eropa. Dalam kerangka ini, Beijing dinilai memadukan teknologi kelas dunia yang lahir dari pasar maju dengan biaya rendah yang ditopang rantai pasok besar, didukung dana AI nasional sebesar 8,69 miliar dolar AS serta inisiatif “AI+”.

Persaingan AI Tiongkok tidak hanya terjadi pada layanan digital, tetapi juga diarahkan ke ekonomi riil. Pada pertemuan Kongres Rakyat Nasional (NPC) awal Maret, para pemimpin Tiongkok disebut akan mengungkap Rencana Lima Tahun ke-15 (2026–2030) yang memetakan upaya mengubah terobosan AI menjadi teknologi skala industri. Fokusnya mencakup “AI + manufaktur” dan “kecerdasan terwujud”, yang dikaitkan dengan pengembangan robot humanoid.

Demonstrasi robot humanoid produksi dalam negeri yang menampilkan keseimbangan dan kelincahan di televisi nasional disebut menjadi contoh kemajuan perangkat keras. Namun, integrasi AI skala besar ke manufaktur diperkirakan memicu restrukturisasi perusahaan, dengan peran besar perusahaan raksasa milik negara yang memiliki kapasitas modal untuk menyerap biaya penerapan infrastruktur.

Shin Nakamura, Presiden Daiwa Steel Tube Industries, memperkirakan akan terjadi diferensiasi tajam dalam struktur industri. Kesenjangan antara perusahaan besar dan usaha kecil-menengah (UKM) diprediksi melebar, yang dapat memicu gelombang merger dan akuisisi karena perusahaan kecil kesulitan mengejar integrasi teknologi.

Kontrol ekspor AS terhadap chip canggih juga disebut belum menghentikan laju Tiongkok. Alih-alih menyerah, perusahaan-perusahaan di sana dinilai semakin piawai mengoptimalkan algoritma agar dapat berjalan pada chip yang lebih lama, atau memanfaatkan klaster chip besar Huawei yang dikombinasikan dengan pasokan listrik murah. Adaptasi ini memperlihatkan keyakinan bahwa distribusi berskala besar dan efisiensi operasional bisa lebih menentukan daripada keunggulan teknis yang tipis.

Bagi banyak negara berkembang, kemunculan “model AI Tiongkok” menghadirkan dilema. Di satu sisi, solusi berbiaya rendah membuka peluang transformasi digital yang lebih cepat di tengah keterbatasan anggaran. Di sisi lain, Freedom House Institute mencatat adanya kaitan dengan sistem kontrol serta manajemen informasi yang tertutup. Meski begitu, daya tarik harga murah dinilai sulit diabaikan.

Di tengah dinamika tersebut, kesenjangan kemampuan teknologi antara Tiongkok dan Barat disebut kian menyempit. CEO Google DeepMind, Demis Hassabis, pernah menyatakan model AI Tiongkok kini hanya tertinggal beberapa bulan dari pesaing Barat—jarak yang dinilai terlalu tipis untuk membuat AS merasa aman dalam perlombaan AI global.