Eskalasi perang antara Israel dan Iran yang melibatkan Amerika Serikat diperkirakan berlangsung lebih lama dari target awal 4–5 pekan. Ketidakpastian ini dinilai menekan kondisi global dan berpotensi berdampak pada perekonomian dunia, termasuk Indonesia.
Salah satu faktor utama yang menjadi perhatian adalah penutupan Selat Hormuz oleh Iran. Langkah tersebut mengganggu rantai pasok energi global dan mendorong lonjakan harga minyak. Dalam laporan tersebut, harga minyak disebut bergerak di kisaran 78–85 dolar AS per barel, melampaui asumsi APBN 2026 sebesar 70 dolar AS per barel. Kenaikan harga ini berpotensi meningkatkan subsidi energi dan memperbesar biaya impor minyak dan gas.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah telah menyiapkan berbagai skenario menghadapi perkembangan situasi. Ia menegaskan APBN 2026 masih berada dalam kondisi aman, ditopang pertumbuhan penerimaan pajak yang disebut meningkat signifikan dalam dua bulan terakhir.
Dari sisi energi, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut Indonesia masih mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari. Produksi domestik disebut berada di level 600 ribu barel per hari. Dengan kondisi tersebut, kenaikan harga minyak tetap berpotensi menambah beban subsidi yang saat ini dialokasikan pada kisaran Rp 318–381 triliun.
Peringatan juga disampaikan Institute for Development of Economics and Finance (Indef). Ekonom M. Rizal Taufikurahman menilai setiap kenaikan 1 dolar AS per barel dapat menambah beban subsidi energi sekitar Rp 2,5–3 triliun. Jika harga tinggi bertahan, ia memperkirakan defisit fiskal berisiko melebar dan nilai tukar rupiah berpotensi tertekan.

