Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Ali Larijani, menegaskan Teheran tidak akan membuka ruang negosiasi apa pun dengan Amerika Serikat (AS). Pernyataan tersebut disampaikan pada Senin (2/3/2026), di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan.
Larijani sekaligus membantah laporan yang beredar di sejumlah media Barat tentang dugaan upaya Iran membuka jalur komunikasi dengan Washington melalui mediator Oman. Ia menyatakan kabar tersebut tidak benar.
“Klaim itu tidak benar. Iran tetap menolak setiap bentuk perundingan dengan Amerika Serikat,” kata Larijani, sebagaimana dikutip kantor berita Tasnim, Selasa (2/3/2026).
Pernyataan itu muncul setelah sebelumnya terdapat pembicaraan nuklir tidak langsung antara delegasi Iran dan AS di Jenewa pada Kamis (27/2/2026). Oman, yang berperan sebagai perantara, sempat melaporkan adanya “kemajuan signifikan” dalam dialog tersebut.
Namun, situasi berubah setelah serangan udara besar-besaran yang disebut dilancarkan AS dan Israel menghantam wilayah Iran pada Sabtu pagi, 28 Februari 2026. Dalam laporan yang sama disebutkan serangan tersebut merusak infrastruktur dan menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, sejumlah komandan senior, serta ratusan warga sipil.
Pasca-peristiwa itu, Larijani—yang disebut memegang kendali setelah wafatnya Khamenei—menyatakan diplomasi tidak lagi relevan. Iran kemudian meluncurkan Operasi Janji Sejati 4 sebagai respons, yang digambarkan sebagai operasi militer berskala besar berupa serangan rudal dan drone terhadap target strategis Israel serta pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Larijani menegaskan Iran kini memilih jalur perlawanan militer, meski sebelumnya sempat ada tanda-tanda kemajuan dalam jalur diplomasi. Perkembangan ini menambah ketidakpastian atas arah konflik di Timur Tengah.

