Wakil Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Christopher Landau, menegaskan bahwa konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah tidak menghentikan upaya diplomasi ekonomi dan keamanan Washington di berbagai kawasan, termasuk Pasifik Selatan.
Pernyataan itu disampaikan Landau melalui unggahan di media sosial X, sebagaimana dilaporkan RNZ Pasifik dan dikutip Jubi, Kamis (5/3/2026). Ia mengatakan baru saja menyelesaikan perjalanan untuk memperkuat kemitraan Amerika Serikat di Pasifik Selatan dengan bertemu para pemimpin politik serta perwakilan sektor swasta di Tonga, Fiji, dan Samoa.
Kunjungan tersebut dilakukan setelah Landau memimpin Pacific Agenda Investment Summit di Honolulu pada 22–24 Februari. Forum itu dihadiri pejabat senior dari 16 negara dan teritori Pasifik serta pelaku sektor swasta dari Amerika Serikat.
Di Tonga, Landau bertemu Raja Tonga Tupou VI, Putra Mahkota Tupouto’a ‘Ulukalala, dan Perdana Menteri Lord Fakafanua di Nuku’alofa. Dalam keterangannya, Landau menyebut Tonga sebagai negara yang tidak pernah dijajah dan telah diperintah oleh raja selama lebih dari 1.000 tahun. Ia juga menyampaikan komitmen kedua negara untuk meningkatkan kerja sama ekonomi dan keamanan.
Dalam kunjungan itu, Landau menandatangani perjanjian “ship rider” yang diperluas untuk memperkuat kerja sama antara Penjaga Pantai AS dan otoritas Tonga.
Di Fiji, Landau bertemu Perdana Menteri Sitiveni Rabuka dan menyatakan bahwa Amerika Serikat serta Fiji memperdalam kerja sama di bidang kemaritiman dan pembangunan ekonomi. Ia juga menandatangani Perjanjian Pendanaan Pembangunan Compact senilai 12 juta dolar AS antara pemerintah Fiji dan Millennium Challenge Corporation, lembaga bantuan luar negeri pemerintah AS, yang berfokus mendorong investasi di negara tersebut.
Sementara di Samoa, Landau bertemu pejabat pemerintah di Apia untuk membahas kepentingan bersama di bidang ekonomi dan keamanan, termasuk hubungan erat dengan American Samoa. Ia turut menandatangani perjanjian Open Skies serta meninjau operasi keamanan pelabuhan.

