Konflik di sejumlah kawasan dunia masih berlanjut, termasuk persaingan antara Amerika Serikat (AS) dan China yang terus menjadi perhatian. Perkembangan terbaru yang disorot para analis adalah serangan militer AS ke Venezuela di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump, yang dinilai berpotensi dimanfaatkan Beijing untuk memperkuat klaim teritorialnya, mulai dari Taiwan hingga Laut China Selatan.
Namun, para pengamat menilai langkah Washington tersebut tidak serta-merta mempercepat invasi China ke Taiwan dalam waktu dekat. Mengutip Reuters, para pakar hubungan internasional melihat adanya pergeseran narasi yang dapat digunakan Beijing, meski Presiden Xi Jinping diyakini tetap bergerak berdasarkan linimasa domestik China dalam isu Taiwan.
Penangkapan pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro, oleh pasukan AS pada Sabtu lalu disebut sebagai peluang tak terduga bagi China untuk memperkeras kritik terhadap AS di panggung internasional. William Yang dari International Crisis Group menilai tindakan AS itu dapat melemahkan posisi moral Washington yang selama ini kerap menuding China melanggar hukum internasional.
Menurut Yang, serangan ke Venezuela menciptakan celah bagi Beijing untuk melawan AS dalam berbagai isu, termasuk Taiwan, Tibet, serta sengketa pulau di Laut China Timur dan Laut China Selatan. Sejalan dengan itu, Kementerian Luar Negeri China mengutuk serangan tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran hukum internasional yang mengancam perdamaian di Amerika Latin. Kantor berita resmi China, Xinhua, juga melabeli tindakan AS sebagai bentuk “perilaku hegemonik yang nyata”.
Meski tekanan militer China terhadap Taiwan terus meningkat—termasuk latihan perang besar-besaran yang mengepung pulau tersebut pekan lalu—sejumlah analis meragukan Beijing akan meniru langkah AS dalam waktu dekat. Shi Yinhong, Profesor Hubungan Internasional di Universitas Renmin Beijing, menilai ambisi China terhadap Taiwan lebih ditentukan oleh kapabilitas militer yang masih terus dikembangkan, bukan oleh aksi AS di kawasan yang jauh.
Neil Thomas dari Asia Society juga berpandangan China tidak akan menjadikan kasus Venezuela sebagai preseden hukum. Alasannya, Beijing secara konsisten menganggap Taiwan sebagai “urusan internal”, sementara serangan AS ke Venezuela dipandang sebagai intervensi terhadap negara berdaulat. Thomas menambahkan, Beijing justru akan berupaya tampil kontras dengan Washington untuk menegaskan citra sebagai pihak yang mengedepankan perdamaian dan kepemimpinan moral.
Dalam penilaian Thomas, China memiliki niat untuk menekan Taiwan, tetapi belum memiliki cara yang dinilai layak untuk melakukannya. Ia menekankan bahwa situasi Taiwan tidak dapat disamakan dengan Venezuela.
Walaupun invasi dinilai belum akan terjadi dalam waktu dekat, dinamika ini disebut tetap meningkatkan risiko bagi Taiwan. Pemerintah di Taipei diperkirakan akan berada di bawah tekanan untuk semakin mendekat dan mencari perlindungan kepada administrasi Trump.
Di media sosial China, seperti Weibo, serangan AS ke Venezuela memicu diskusi luas. Sejumlah pengguna menyarankan Beijing mempelajari ketegasan yang ditunjukkan Trump. Sementara itu, Lev Nachman, profesor ilmu politik di National Taiwan University, memperingatkan bahwa dampak jangka panjang aksi militer AS tersebut tetap berbahaya bagi Taiwan.
Menurut Nachman, apa yang dilakukan Trump berpotensi membantu narasi Xi Jinping di masa depan untuk membangun pembenaran yang lebih kuat atas tindakan militer terhadap Taiwan.

