Isu mengenai potensi Perang Dunia III kembali ramai diperbincangkan di media sosial. Salah satu analisis yang banyak dibagikan menyebut ada sejumlah negara yang dinilai relatif lebih aman apabila konflik global besar benar-benar terjadi. Dalam daftar yang beredar, Indonesia turut disebut.
Pandangan tersebut merujuk pada analisis Profesor iklim dan sains atmosfer Brian Toon, yang meneliti dampak perang nuklir terhadap iklim global serta ketahanan pangan dunia. Dalam kajiannya, ia menilai beberapa negara memiliki peluang lebih besar untuk bertahan, terutama karena faktor geografis, netralitas politik, dan ketersediaan sumber daya alam.
Sejumlah negara yang kerap disebut relatif aman antara lain Selandia Baru, Swiss, Islandia, Indonesia, Afrika Selatan, Argentina, Bhutan, Chili, dan Fiji.
Indonesia dinilai memiliki keuntungan geografis karena berada jauh dari pusat ketegangan geopolitik utama dunia. Selain itu, kebijakan politik luar negeri “bebas dan aktif” dipandang membuat Indonesia tidak secara langsung terikat pada blok kekuatan besar global.
Di kawasan Pasifik, Selandia Baru dan Fiji juga disebut memiliki peluang bertahan karena letaknya yang relatif terisolasi serta populasi yang lebih kecil. Sementara itu, Swiss dikenal dengan tradisi netralitasnya dalam konflik internasional.
Negara seperti Islandia dan Argentina dianggap memiliki sumber daya alam serta produksi pangan yang cukup untuk menopang kebutuhan domestik dalam situasi krisis global. Pertimbangan serupa juga disematkan pada Afrika Selatan, Bhutan, dan Chili, yang dinilai memiliki kombinasi lokasi dan kapasitas produksi pangan.
Meski demikian, label “relatif aman” tidak berarti sepenuhnya terbebas dari dampak. Dalam berbagai kajiannya, Brian Toon memperingatkan perang nuklir dapat memicu fenomena “musim dingin nuklir”, yakni kondisi ketika debu dan asap akibat ledakan menghalangi sinar matahari, menurunkan suhu global, dan mengganggu produksi pangan secara luas.
Dampak lanjutan yang dikhawatirkan mencakup gagal panen, kelaparan lintas negara, krisis ekonomi, hingga gangguan rantai pasok global. Artinya, sekalipun tidak menjadi target langsung serangan, hampir semua negara tetap berisiko terdampak secara tidak langsung.

