BERITA TERKINI
Aprisindo Ingatkan Pemerintah: Indonesia Berisiko Tersalip India dalam Perebutan Investasi Industri Sepatu

Aprisindo Ingatkan Pemerintah: Indonesia Berisiko Tersalip India dalam Perebutan Investasi Industri Sepatu

Pelaku industri alas kaki nasional mengingatkan pemerintah agar tidak lengah menjaga iklim usaha di tengah gejolak ekonomi global. Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) menilai Indonesia masih memiliki posisi strategis di mata pembeli global, namun momentum tersebut dapat memudar jika persoalan domestik tidak segera dibenahi. Dalam kondisi itu, Indonesia dinilai berisiko tersalip India yang mulai agresif menarik investasi.

Ketua Umum Terpilih Aprisindo, Anton J Supit, mengatakan selama ini pembeli global cenderung menjadikan Vietnam dan Indonesia sebagai negara tujuan utama untuk sourcing. Namun, ia menilai India kini muncul sebagai alternatif yang semakin serius dipertimbangkan.

Anton menekankan pentingnya kepastian kebijakan dan sinyal positif bagi dunia usaha. Menurutnya, bila Indonesia gagal menjaga daya tarik tersebut, para pembeli global memiliki pilihan untuk mengalihkan rencana ekspansi ke negara lain.

Ia juga mengingatkan bahwa jika Indonesia terlalu lama menyelesaikan berbagai pekerjaan rumah, pembeli global dapat lebih dulu membangun infrastruktur dan rantai pasok di India. Apabila investasi sudah berpindah dan ekosistem produksi terbentuk di sana, Indonesia disebut akan lebih sulit merebut kembali peluang tersebut.

Kekhawatiran Aprisindo muncul di tengah kondisi pasar global yang dinilai belum pulih. Wakil Ketua Umum Aprisindo, Harijanto, menyebut ketidakpastian geopolitik masih menjadi tekanan utama bagi industri sepatu dunia, mulai dari perang di Ukraina, ketegangan di Timur Tengah, hingga konflik internasional lain yang berdampak pada ekonomi Eropa dan Amerika Serikat.

Harijanto memperkirakan hingga akhir 2027 industri sepatu nasional masih bergerak lambat, dengan utilisasi pabrik berada di kisaran 60–70%. Kondisi ini dinilai membuat investasi baru cenderung terbatas karena kapasitas terpasang yang ada masih mencukupi.

Selain tekanan global, ia menyoroti sejumlah persoalan struktural di dalam negeri. Salah satunya adalah tingginya porsi biaya tenaga kerja (labor cost) di industri alas kaki yang disebut mencapai 18–28%, lebih tinggi dibanding sektor berteknologi tinggi seperti otomotif yang berada di kisaran 7–8%. Beban tersebut dinilai semakin berat karena diiringi ketidakpastian regulasi ketenagakerjaan.

Harijanto juga menyinggung persoalan perizinan lahan dan proses AMDAL yang berlarut-larut, sehingga pembangunan pabrik dapat memakan waktu bertahun-tahun. Di sisi lain, lemahnya industri pendukung membuat banyak komponen masih harus diimpor dari Vietnam dan China, yang menurutnya membatasi nilai tambah yang dinikmati Indonesia.

Ia mencontohkan bahwa meski nilai ekspor meningkat, pertumbuhan industri pendukung dinilai belum mengikuti. Akibatnya, bahan dan komponen seperti tekstil serta kulit sintetis masih banyak bergantung pada pasokan dari luar negeri.

Data Kementerian Perindustrian menunjukkan Indonesia dan India termasuk dalam jajaran produsen alas kaki terbesar dunia. Berdasarkan data tahun 2021, China masih menjadi produsen terbesar dengan produksi 12 miliar pasang atau 54,1% pangsa pasar dunia. India berada di posisi kedua dengan produksi 2,6 miliar pasang atau 11,7%, disusul Vietnam di peringkat ketiga dengan 1,3 miliar pasang atau 6,1%. Indonesia menempati posisi keempat dengan produksi 1 miliar pasang atau 4,9% pangsa pasar dunia.

Aprisindo menilai situasi ini menjadi pengingat bahwa persaingan antarnegara dalam menarik investasi industri alas kaki semakin ketat. Asosiasi meminta pemerintah memperkuat kepastian usaha dan memperbaiki hambatan struktural agar Indonesia tetap kompetitif sebagai basis produksi sepatu di pasar global.