Bank Dunia memproyeksikan tiga negara berpotensi menghadapi tekanan ekonomi berat pada 2026 setelah diperkirakan mencatat pertumbuhan negatif atau kontraksi. Dalam laporan Global Economic Prospects (GEP) edisi Januari 2026, tiga negara yang disebut mengalami resesi sejak 2025 dan diproyeksikan masih tertekan hingga 2027 adalah Bolivia, Jamaika, dan Iran.
Untuk Bolivia, Bank Dunia memperkirakan ekonomi negara tersebut turun 0,5% pada 2025, setelah pertumbuhan pada 2024 hanya 0,7%. Kontraksi diproyeksikan berlanjut pada 2026 menjadi minus 1,1% dan semakin dalam pada 2027 dengan minus 1,5%.
Jamaika diperkirakan telah mengalami kontraksi sejak 2024 sebesar minus 0,5%. Kondisi itu diproyeksikan berlanjut pada 2025 dengan minus 1,3% dan memburuk pada 2026 dengan kontraksi minus 2,3%. Bank Dunia memperkirakan pemulihan terjadi pada 2027 dengan pertumbuhan 3,7%.
Bank Dunia menyebut proyeksi tersebut masih dipengaruhi berbagai kendala. “Pertumbuhan ekonomi Jamaika diproyeksikan sebesar -2,3% pada tahun 2026 dan 3,7% pada 2027, tetap terhambat oleh kendala struktural serta rekonstruksi pasca Badai Melissa yang sangat luas dan butuh kecepatan,” tulis Bank Dunia dalam GEP edisi Januari 2026.
Sementara itu, Iran diproyeksikan mengalami kontraksi sejak 2025 sebesar minus 1,1% dan berlanjut pada 2026 menjadi minus 1,5%. Pada 2027, ekonomi Iran diperkirakan kembali tumbuh 0,6%.
Bank Dunia menjelaskan, “Di antara negara-negara pengekspor minyak non-GCC (Gulf Cooperation Council), aktivitas ekonomi di Republik Islam Iran diperkirakan akan mengalami kontraksi sebesar 1,5% pada tahun fiskal (FY) 2026/27 (akhir Maret 2026 hingga akhir Maret 2027) dan tumbuh dengan laju yang lebih lambat sebesar 0,6% pada FY2027/28.” Menurut laporan itu, proyeksi tersebut mencerminkan penurunan produksi minyak di tengah pemberlakuan kembali sanksi internasional dan pembatasan perdagangan yang lebih ketat.
Di luar tiga negara yang diproyeksikan mengalami kontraksi, Bank Dunia memperkirakan ekonomi Yaman pada 2026 stagnan dengan proyeksi pertumbuhan 0,0%. Angka ini disebut lebih baik dibanding kontraksi yang terjadi sejak 2023, yakni minus 2,0% pada 2023 dan minus 1,5% pada 2024.
Adapun untuk Venezuela, Bank Dunia menyatakan belum dapat menerbitkan proyeksi pertumbuhan karena keterbatasan data. Dalam laporan tersebut, Bank Dunia menyebut terlalu dini menilai implikasi makroekonomi dari peristiwa terkini di Venezuela dan menegaskan tidak menerbitkan data output ekonomi, pendapatan, atau pertumbuhan untuk negara itu karena kurangnya data yang andal dan berkualitas memadai.
Dalam bagian lain laporan, Bank Dunia juga menyoroti prospek ekonomi wilayah konflik. Untuk Palestina, khususnya Gaza dan Tepi Barat, Bank Dunia memperkirakan pemulihan setelah kontraksi 4,6% pada 2023 dan memburuk menjadi minus 26,6% pada 2024. Pertumbuhan diproyeksikan kembali positif pada 2025 sebesar 3,9%, meningkat menjadi 5,1% pada 2026, dan mencapai 11,6% pada 2027.
Sementara itu, Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan Rusia melambat. Ekonomi Rusia diperkirakan tumbuh 0,8% pada 2026, setelah estimasi 0,9% pada 2025, dan meningkat tipis menjadi 1% pada 2027. Angka tersebut lebih rendah dibanding pertumbuhan 2024 yang tercatat 4,3%.
Untuk Ukraina, Bank Dunia memperkirakan ekonomi hanya tumbuh 2% pada 2025 dan 2026, lalu meningkat menjadi 4% pada 2027. Meski demikian, proyeksi itu masih lebih rendah dibanding pertumbuhan pada 2023 sebesar 5,5% dan 2024 sebesar 2,9%.

