MEDAN — Awal 2026 dinilai menjadi momen bagi masyarakat untuk menata ulang kesehatan finansial, mulai dari membangun kebiasaan menabung, mengurangi utang konsumtif, hingga menyiapkan dana pendidikan dan hari tua. Namun, tanpa strategi pengelolaan keuangan yang tepat, resolusi finansial kerap tidak berjalan sesuai rencana.
Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Sumatera Utara, M. Pintor Nasution, mengatakan bahwa di tengah dinamika ekonomi, menabung saja tidak selalu cukup untuk menjaga nilai kekayaan. Menurutnya, inflasi dapat menggerus daya beli sehingga uang yang hanya disimpan berisiko tidak mampu mengejar kenaikan biaya hidup, pendidikan, dan kesehatan di masa depan.
“Inflasi yang terus berjalan dapat menggerus daya beli. Uang yang hanya disimpan berisiko tidak mampu mengejar kenaikan biaya hidup, pendidikan, dan kesehatan di masa depan. Karena itu, masyarakat perlu mengelola aset secara lebih produktif dan terencana,” ujar Pintor, Selasa (20/1/2026).
Pintor menilai pasar modal dapat menjadi salah satu solusi untuk perencanaan finansial jangka panjang. Melalui berbagai instrumen investasi, masyarakat disebut memiliki pilihan pengelolaan dana untuk jangka pendek, menengah, hingga panjang, sesuai dengan tujuan keuangan masing-masing.
Ia juga menekankan bahwa pasar modal bukan semata menawarkan potensi pertumbuhan kekayaan, tetapi juga menjadi bentuk partisipasi masyarakat dalam mendorong pertumbuhan perusahaan nasional dan memperkuat fundamental ekonomi Indonesia.
Dalam merencanakan investasi, Pintor menekankan pentingnya penetapan tujuan yang jelas. Setiap tujuan finansial memiliki karakteristik risiko dan jangka waktu berbeda, sehingga pemilihan instrumen investasi perlu dilakukan secara tepat dan terukur.
“Investasi yang dilakukan secara konsisten dan disiplin berpotensi memberikan imbal hasil di atas inflasi, sehingga daya beli masyarakat dapat terjaga dalam jangka panjang. Inilah nilai strategis pasar modal dalam membantu pencapaian tujuan finansial,” katanya.
Memasuki 2026, ia menyebut tantangan ekonomi global dan domestik masih membayangi, mulai dari ketidakpastian geopolitik hingga akselerasi teknologi dan transformasi industri. Meski demikian, Pintor menilai kondisi tersebut dapat membuka peluang bagi investor untuk berinvestasi pada perusahaan yang inovatif, resilien, dan berkelanjutan.
Pintor juga mengingatkan bahwa investasi di pasar modal bukan sarana mencari keuntungan instan atau spekulasi semata. Menurutnya, investasi yang sehat membutuhkan perencanaan matang, pemahaman memadai, serta kedisiplinan tinggi, dengan keputusan yang disesuaikan pada tujuan keuangan, profil risiko, dan jangka waktu investasi.
Untuk mendukung hal tersebut, BEI terus mendorong peningkatan literasi dan inklusi pasar modal di berbagai daerah. Sepanjang 2025, BEI menyelenggarakan 29.474 kegiatan literasi, inklusi, dan aktivasi secara luring dan daring yang diikuti 2.820.702 peserta. Selain itu, terdapat 17.575 kegiatan edukasi virtual melalui media sosial dengan jangkauan lebih dari 24 juta audiens.
“Edukasi menjadi fondasi utama agar masyarakat dapat berinvestasi secara bijak dan terhindar dari penawaran investasi ilegal atau tidak masuk akal,” ujar Pintor.
BEI juga menyediakan materi edukasi yang dapat diakses melalui situs resmi dan kanal digital resmi, serta program Sekolah Pasar Modal (SPM) yang dapat diikuti secara daring maupun luring untuk membantu masyarakat memahami dasar-dasar investasi secara praktis.
“Pada akhirnya, membangun keuangan yang sehat adalah proses jangka panjang. Dengan memanfaatkan pasar modal secara bijak, masyarakat memiliki peluang untuk membangun ketahanan finansial yang lebih kuat dan berkelanjutan,” pungkas Pintor.

