SAMARINDA – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan perekonomian global pada 2026 akan tumbuh lebih moderat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Namun, di tengah perlambatan tersebut, ekonomi Kalimantan Timur (Kaltim) diperkirakan justru mencatat pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan 2025.
Proyeksi itu disampaikan Kepala Perwakilan BI Provinsi Kalimantan Timur, Jajang Hermawan, dalam kegiatan Temu Media bertajuk Recent Economic Development edisi Februari 2026, Jumat (27/2/2026).
Jajang menjelaskan, perlambatan global dipengaruhi meningkatnya ketidakpastian kebijakan perdagangan, terutama potensi penguatan kembali tarif impor Amerika Serikat, serta tensi geopolitik yang berlanjut. Kondisi tersebut turut memicu volatilitas pasar keuangan dan menahan laju pertumbuhan perdagangan internasional.
“Prospek ekonomi global tahun ini cenderung lebih moderat. Ketidakpastian kebijakan dan dinamika geopolitik masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pertumbuhan,” ujarnya.
Selain itu, BI menyoroti risiko kelebihan pasokan minyak dunia yang dapat menekan harga komoditas energi di pasar global. Situasi ini dinilai berdampak pada negara berbasis ekspor komoditas, termasuk Indonesia.
Meski menghadapi tekanan eksternal, Jajang menilai ekonomi nasional masih menunjukkan daya tahan. Ia menyebut konsumsi rumah tangga yang stabil, investasi yang terjaga, serta kinerja ekspor produk hilirisasi menjadi penopang utama pertumbuhan.
“Permintaan domestik masih menjadi tulang punggung ekonomi nasional. Transformasi melalui hilirisasi industri juga mulai memberikan nilai tambah yang signifikan,” katanya.
Untuk Kalimantan Timur, Jajang mengakui kinerja ekonomi pada 2025 mengalami moderasi dibandingkan tahun sebelumnya. Salah satu pemicunya adalah normalisasi harga batu bara di pasar global yang berdampak pada perlambatan sektor pertambangan sebagai kontributor terbesar PDRB Kaltim.
“Pertambangan masih menjadi penopang utama ekonomi daerah, namun koreksi harga komoditas membuat pertumbuhannya lebih terbatas,” ujarnya.
Meski demikian, BI melihat penguatan mulai terjadi pada sektor non-tambang. Industri pengolahan disebut meningkat seiring pengembangan hilirisasi berbasis kelapa sawit dan mineral. Sementara itu, sektor konstruksi dinilai tumbuh solid berkat pembangunan infrastruktur dan proyek strategis nasional, termasuk pengembangan Ibu Kota Nusantara (IKN).
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga masih menjadi motor pertumbuhan ekonomi daerah. Stabilitas inflasi yang dijaga melalui sinergi BI dan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) turut menopang daya beli masyarakat. Investasi juga disebut relatif stabil meski pelaku usaha cenderung berhati-hati dalam ekspansi.
Memasuki 2026, BI Kaltim memproyeksikan pertumbuhan ekonomi daerah akan lebih tinggi dibandingkan 2025. Peningkatan kapasitas produksi industri pengolahan serta keberlanjutan pembangunan infrastruktur diperkirakan memberi efek berganda terhadap sektor perdagangan, transportasi, dan jasa lainnya.
“Kami optimistis ekonomi Kaltim dapat tumbuh lebih kuat pada 2026, terutama didorong industri pengolahan dan konstruksi. Namun, risiko global tetap perlu diantisipasi,” tegas Jajang.
Ia menambahkan, penguatan diversifikasi ekonomi menjadi langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap sektor tambang. Dengan struktur ekonomi yang lebih seimbang, pertumbuhan Kaltim diharapkan semakin inklusif dan berkelanjutan di tengah dinamika global yang penuh tantangan.

