BERITA TERKINI
BI Perkuat Stabilisasi Rupiah di Tengah Ketegangan Timur Tengah, Ekonom Ingatkan Risiko Cadangan Devisa

BI Perkuat Stabilisasi Rupiah di Tengah Ketegangan Timur Tengah, Ekonom Ingatkan Risiko Cadangan Devisa

Tekanan di pasar keuangan akibat ketegangan militer di kawasan Timur Tengah menempatkan nilai tukar rupiah dalam posisi tertekan. Untuk meredam gejolak dan menahan laju pelemahan, Bank Indonesia (BI) menyiapkan rangkaian strategi stabilisasi yang dikombinasikan melalui sejumlah instrumen.

Ekonom Makroekonomi dan ahli Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menilai langkah BI sudah berada di jalur yang tepat. Ia berpendapat, tanpa intervensi otoritas moneter, pelemahan rupiah berpotensi menjadi lebih dalam.

“Saya rasa sudah tepat. Tapi memang kalau BI tidak melakukan ini, pelemahan rupiah akan semakin parah,” kata Riefky saat dihubungi di Jakarta, Jumat.

Dalam upaya stabilisasi, BI melakukan intervensi berlapis yang mencakup transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pemanfaatan pasar luar negeri. Selain itu, BI juga menyiapkan kebijakan pembatasan melalui aturan baru terkait pemotongan batas atas pembelian valuta asing (valas) tunai yang mulai berlaku pada April 2026, dengan tujuan menertibkan permintaan dolar agar lebih berfokus pada kebutuhan mendesak.

Di sisi lain, Direktur Pusat Makroekonomi Indef, M. Rizal Taufikurahman, juga menilai strategi BI berada pada arah yang benar. Namun, ia mengingatkan adanya biaya yang menyertai stabilisasi melalui intervensi besar-besaran, terutama karena dapat menguras cadangan devisa bila dilakukan tanpa perhitungan yang matang.

“Artinya, stabilisasi rupiah harus selektif dan tidak bisa hanya mengandalkan intervensi berkelanjutan,” kata Rizal.

Rizal menilai pemangkasan batas pembelian dolar sebagai langkah yang baik untuk menekan aksi pembelian valas yang bersifat berjaga-jaga. Meski demikian, ia menekankan pentingnya pengawasan agar kebijakan tersebut tidak menghambat aktivitas perdagangan internasional, termasuk kebutuhan impor dan pembayaran eksternal korporasi.

“Kebijakan ini memberi sinyal bahwa permintaan valas harus berbasis kebutuhan riil, meski tetap perlu dijaga agar tidak mengganggu aktivitas impor dan pembayaran eksternal korporasi,” ujarnya.

Terkait instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), Rizal memandang instrumen tersebut cukup mumpuni untuk menarik aliran modal asing masuk ke dalam negeri. Namun, ia menilai SRBI bukan solusi permanen apabila tidak dibarengi dengan kepercayaan terhadap kebijakan fiskal pemerintah. Ia juga menyarankan agar wacana kenaikan suku bunga acuan ditempatkan sebagai langkah terakhir agar pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.

Rizal menambahkan, kerentanan rupiah saat ini dinilai lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal.

“Ini menunjukkan bahwa stabilitas rupiah saat ini lebih ditentukan oleh sentimen eksternal daripada kekuatan domestik semata,” kata Rizal.

Menutup pekan ini, pada Jumat (24/4), rupiah disebut berhasil menunjukkan sedikit penguatan.